A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: controllers/Document.php

Line Number: 69

Backtrace:

File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler

File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once

@thesis{thesis, author={ }, title ={Teachers andStudents Perception on Gender Inequality in the English Worksheet for JuniorHigh School}, year={2023}, url={https://digilib.unesa.ac.id/detail/MDBjYTRiMDAtZmI5Zi0xMWVkLTk3ZjQtZDUyZDgxOGVjMWJi}, abstract={Ketidaksetaraan gender sudah diperkenalkan kepada anak-anak di rumah dan masih diperkuat melalui kurikulum sekolah, terutamanya LKS. Oleh karena itu, peran sentral yang dimainkan oleh guru dan siswa dalam menggunakan LKS yang memuat ketidaksetaraan gender dalam pendidikan anak di Indonesia perlu disoroti dalam beberapa penelitian. Studi ini mengkaji bagaimana LKS-Bahasa Inggris (Lembar Kerja Siswa) mendefinisikan perempuan dan laki-laki dalam teks dan ilustrasi. LKS-Bahasa Inggris yang digunakan secara umum di Sekolah Menengah Pertama menekankan stereotip gender yang identik dengan masyarakat Indonesia berkaitan pemberian ekspektasi kepada siswa. Oleh karena itu, penelitian ini juga mengungkap persepsi guru tentang gender dalam lembar kerja bahasa Inggris dan mengeksplorasi persepsi siswa tentang ketidaksetaraan gender terhadap harapan dan prestasi siswa. Studi ini juga memberikan peran guru dalam mengatasi masalah ketidaksetaraan gender yang berkaitan dengan harapan dan impian siswa.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan data yang diperoleh dari LKS-Bahasa Inggris siswa kelas 7 dan 9. Sementara itu, teknik content analysis digunakan untuk memperoleh data tentang bagaimana perempuan dan laki-laki digambarkan dalam teks dan ilustrasi, terutamanya mengenai omission, pekerjaan, konstruksi generik maskulin, dan kata sifat. Jika ada beberapa presentasi angka, hal ini bertujuan untuk memetakan representasi gender dalam lembar kerja. Kemudian, wawancara terhadap dua orang guru dan empat orang siswa dilaksanakan untuk mengetahui lebih dalam tentang persepsi guru dan siswa dalam menghadapi teks bias gender selama pembelajaran dan tanggapan siswa terhadap penjelasan guru tentang kesetaraan gender dalam penanaman harapan siswa untuk berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari demi menggapai impian. Studi ini juga mengamati aktivitas di kelas untuk mendapatkan data tentang interaksi guru dan siswa menggunakan lembar kerja bahasa Inggris dalam mempromosikan kesetaraan gender. Selain itu, penelitian ini juga mengandalkan Analisis Wacana Kritis (CDA) yang hanya menganalisis teks tertulis dan kata-kata lisan untuk mengungkap bagaimana ketidakseimbangan masyarakat (kekuasaan, dominasi, ketimpangan, dan bias) diciptakan dan dipertahankan.Studi ini mengungkap bahwa visibilitas perempuan dan laki-laki dalam teks linguistik dan ilustrasi LKS-Bahasa Inggris kelas tujuh dan sembilan memperkuat representasi asimetri gender. Terutamanya perempuan dan laki-laki digambarkan sebagai stereotip dan budaya yang mengarah keyakinan patriarkal terhadap gender. Meskipun ada jumlah frekuensi kemunculan, pekerjaan, dan kata sifat perempuan dalam dialog dan cerita lebih besar daripada laki-laki, tetapi mereka ditampilkan sebagai stereotip gender budaya Indonesia, seperti perempuan ditampilkan dalam peran rumah tangga, penggambaran kemampuan rumah tangga, dan penggambaran keadaan emosional. Selain itu, pembelajaran dua guru telah diobservasi dalam menggunakan LKS-Bahasa Inggris, beserta wawancara lanjutan. Temuan menunjukkan bahwa kedua guru berhasil dalam menggunakan teks sebagai cara untuk mengembangkan perilaku dan kritis siswa. Mereka berhasil mempromosikan inklusivitas gender terhadap harapan siswa. Mereka percaya bahwa guru memainkan peran penting dalam memotivasi dan membangun prinsip-prinsip siswa untuk bebas dari stereotip-gender di lingkungannya. Selain itu, dua siswa perempuan dan dua laki-laki telah diwawancarai. Temuan mengungkapkan bahwa siswa secara bertahap diserap oleh pemikiran dan harapan baru tentang berperilaku dan menggapai impian, terlepas dari bias gender, untuk kehidupan yang bertanggung jawab dalam masyarakat bebas, dalam semangat pemahaman, perdamaian, toleransi, dan kesetaraan gender.} }