@thesis{thesis, author={Biantong Gideon Otto}, title ={Marhaenisme: Kajian Teologis terhadap Prinsip-prinsip Marhaenisme sebagai Kerangka untuk Membangun Paradigma Teologi Kontekstual bagi Misi Gereja di Indonesia}, year={2009}, url={http://digilib-iakntoraja.ac.id/1733/}, abstract={GIDEON OTTO BIANTONG, 2009, menyusun skripsi dengan judul ?MARHAENISME?, dengan sub judul ?Kajian Teologis terhadap Prinsip-prinsip Marhaenisme sebagai Kerangka untuk Membangun Paradigma Teologi Kontekstual bagi Misi Gereja di Indonesia?. Pemilihan judul ini dilatarbelakangi oleh kegelisahan penulis melihat kenyataan bahwa dalam sepanjang sejarahnya, gereja-gereja di Indonesia senantiasa bergumul dengan konteksnya dalam pelaksanaan misi di Indonesia, agar ia benar-benar dapat melaksanakan misi gereja di Indonesia itu sebagai bagian dari misi Allah. Namun, dalam pergumulannya dengan konteks ini, gereja-gereja di Indonesia mengalami tantangan paradigma teologi zending, kemiskinan dan pluralitas agama, yang dalam sejarahnya telah membuat gereja-gereja di Indonesia belum mampu membangun citra sosialnya sebagai Gereja Kristus di Indonesia. Semua ini diakibatkan karena gereja-gereja di Indonesia dalam berteologi dan melaksanakan misi gereja masih sering ?berkiblat? kepada ?ibu rohani?-nya di Barat, yang mewariskan paradigma teologi bersemangat kolonial yang asing. Ini membuat pembangunan teologi kontekstual Indonesia sebagai landasan teologi bagi misi gereja di Indonesia menjadi urgen demi membangun citra sosial gereja-gereja di Indonesia sebagai Gereja Kristus di Indonesia, yang benar-benar berwarna Indonesia, yang niscaya hanya dapat dicapai dengan menggali kekayaan historis-kultural Indonesia dalam penghayatan iman kepada Allah dalam Yesus Kristus. Di sini, penggalian benih-benih Injil dalam prinsip-prinsip marhaenisme sebagai cikal bakal Pancasila, yang merupakan kepribadian bangsa Indonesia yang menekankan peijuangan bagi kemanusiaan, untuk menjadikan manusia benar-benar manusiawi, niscaya mendapatkan tempat dalam menghayati iman kita, kini dan di sini. Pada akhirnya, keniscayaan itu memberikan kemungkinan untuk berteologi dan bermisi dalam kerangka marhaenisme, sebagaimana ada kemungkinan untuk berteologi dan bermisi dalam kerangka Pancasila. Kemungkinan inilah yang coba diwujudkan melalui tulisan ini.} }