@thesis{thesis, author={Payung Japen}, title ={Nama Gereja dan Perpecahan: studi Kasus Perubahan Nama Gereja yang Berujung pada Perpecahan di Gereja Toraja Jemaat Tondok Tangnga, Klasis Seriti, Kabupaten Luwu}, year={2019}, url={http://digilib-iakntoraja.ac.id/2456/}, abstract={Japen Payung (2020154111) NAMA GEREJA DAN PERPECAHAN: Studi Kasus Perubahan Nama Gereja Yang Berujung Pada Perpecahan Di Gereja Toraja Jemaat Tondok Tangnga, Klasis Seriti, Kabupaten Luwu. Dibimbing oleh Oktoviandy Rantelino, M. Si dengan Dr. Selvianti, M. Th Kajian ini didorong oleh kondisi yang penulis alami selama berada di lokasi penelitian dalam lingkup Gereja Toraja sampai saat ini. Kondisi yang dimaksudkan adalah kondisi perpecahan Gereja yang berawal dari perubahan nama Gereja yang berujung pada perpecahan di Gereja Toraja Jemaat Tondok Tangnga, Klasis Seriti, Kabupaten Luwu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan studi kasus perubahan nama gereja yang berujung pada perpecahan dan juga untuk mengetahui Faktor-faktor penyebab terjadinya perpecahan di Gereja Toraja Jemaat Tondok Tangnga. Dalam merampungan penelitian skripasi ini, metode yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan observasi, wawancara dan analisis serta menginterpretasi data. Jumlah narasumber yang diteliti adalah 6 majelis dan 2 anggota Jemaat Tondok Tangnga. . Adapun hasil wawancara dari setiap narasumber yang kemudian membantu Penulis untuk menganalisis dan menginterpretasi data. Dari hasil penelitian, membuktikan bahwa Perubahan Nama Gereja Yang Berujung Pada Perpecahan Di Gereja Toraja Jemaat Tondok Tangnga, Klasis Seriti, Kabupaten Luwu, Terjadi karena adanya masalah kekeluargaan yang terpendam sehingga dibawa dalam persekutuan, bahkan perpecahan ini terjadi karena ketidak tegasan pendeta dan majelis dalam menyelesaikan masalah tersebut, bahkan kerjasama antara pendeta, penatua, dan diaken bahkan setiap anggota jemaat yang lain masih sangat kurang menjalin keijasama yang baik sehingga jemaat ini pecah karena ada rasa politik dalam gereja untuk mau mempertahankan dan menonjolkan nama asal kampong mereka sehingga terjadilah perpecahan karena mempertahankan ego mereka masing-masing. Melihat hal tersebut, maka jemaat harus menyadari keterpanggilannya sebagai umat pilihan dalam dunia ini, dimana gereja adalah sebagai tubuh Kristus adalah takterbagi dan satua danya, Dengan demikian gereja harus melanjutkan misis Allah di dalam dunia untuk menjaga keutuhan dan kesatuan tubuh Kristus sebagai kepala Gereja.} }