@thesis{thesis, author={Kalosi Jarlin Dewi}, title ={Tinjauan Sosio-Teologis Pergeseran makna Mantunu Tedong dalam Upacara Rambu Solo’ di Lembang Buntukarua}, year={2023}, url={http://digilib-iakntoraja.ac.id/2615/}, abstract={ABSTRAK Jarlin Dewi Kalosi, Tahun 2023, Menyusun skripsi dengan judul Tinjauan Sosio-Teologis Pergeseran makna mantunu tedong dalam upacara Rambu solo? di Lembang Buntukarua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif melalui studi pustaka, observasi dan wawancara serta analisis. Jumlah informan dalam penelitian ini yaitu sebelas orang di Lembang Buntukarua. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyimpulkan bahwa mantunu tedong merupakan warisan budaya yang terus bertahan sampai sekarang. Bagi masyarakat Lembang Buntukarua ritual mantunu tedong ini bertujuan untuk mempererat relasi dalam keluarga maupun didalam masyarakat luas. Lembang Buntukarua memaknai mantunu tedong sebagai bentuk kasih sayang terhadap orang yang telah meninggal, sebagai bentuk kasianggaran (saling menghargai), sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan yang meskipun berada dalam duka namun tetap merasakan kasih dan pertolongan daripada Tuhan, serta mantunu tedong dimaknai sebagai ajang untuk memperlihatkan kemampuan dalam melakukan ritual tersebut. Kata Kunci : Buntukarua, Mantunu tedong, Rambu solo? ABSTRACT Jarlin Dewi Kalosi, Year 2023, Compiling a thesis with the title Socio-Theological Review The shift in the meaning of mantunu tedong in the Rambu solo' ceremony in Lembang Buntukarua. The method used in this research is a qualitative research method through literature study, observation and interviews and analysis. The number of informants in this research was eleven people in Lembang Buntukarua. Based on the research results, the author concludes that Mantunu Tedong is a cultural heritage that continues to survive today. For the people of Lembang Buntukarua, the mantunu tedong ritual aims to strengthen relationships within the family and within the wider community. Lembang Buntukarua interprets mantunu tedong as a form of affection for people who have died, as a form of kasianggaran (mutual respect), as a form of expression of gratitude to God who, even though he is in sorrow, still feels love and help from God, and mantunu tedong is interpreted as an opportunity to demonstrate the ability to perform the ritual. Keywords: Buntukarua, Mantunu tedong, Rambu solo?} }