@thesis{thesis, author={Tirza Tirza}, title ={Suatu Kajian Teologis tentang Pengudusan Hari Minggu di Gereja Toraja Jemaat Salukanan Klasis Rongkong Sabbang Baebunta}, year={2020}, url={http://digilib-iakntoraja.ac.id/2792/}, abstract={ABSTRAK Tirza (2020164703), 2020, menyusun skripsi dengan Suatu Kajian Teologis Tentang Pengudusan Hari Minggu Di Gereja Toraja Jemaat Salukanan Klasis Rongkong Sabbang Baebunta, dibawah bimbingan Dr. I Made Suardana, M.Th dan Bema Sule, M.Th Hari Minggu adalah hari khusus bagi umat percaya untuk merayakan kemenangan Yesus atas maut, dengan cara beribadah. Tetapi berbicara tentang menghayati hari Minggu terdapat perbedaan disetiap wilayah. Dalam memaknai hari Sabat, dalam Perjanjian Lama adalah karunia Allah bagi bangsa Israel sebagai hari dimana mereka menghayati karya penciptaan Allah, dan pembebasan dari perbudakan. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, hari Sabat sebagai hari kesukaan suatu karunia Tuhan melalui Yesus Kristus untuk membebaskan manusia dari dosa. Penulis membahas topik ini, untuk mengetahui apakah yang membuat jemaat Rongkong di Salukanan masih mengerjakan perilaku bejemaat mula-mula dalam hal pengudusan hari Minggu sehingga pengudusan hari Minggu masih tetap dipertahankan oleh jemaat Rongkong di Salukanan, bahkan masih mengerjakan perilaku berjemaat mula-mula walaupun ditengah arus modernitas yang sangat kuat. Penulis merampungkan tulisan ini dengan menggunakan metode kualitatif dan studi kepustakaan, yakni meneliti sumber-sumber yang dianggap relevan dengan topik dan juga melalui observasi dan wawancara. Akhir tulisan ini penulis menyimpulkan bahwa Pengudusan Hari Minggu di Gereja Toraja Jemaat Salukanan Klasis Rongkong Sabbang Baebunta sangat berbeda dengan wilayah lain. Dimana jemaat Salukanan sangat mengkhususkan satu hari yaitu hari Minggu untuk berhenti dari segala pekerjaan seperti kehidupan jemaat mula-mula pada hari Sabat. Dan ada beberapa faktor yang membuat jemaat Salukanan masih mempertahankan kekudusan hari Minggu yaitu pengaruh ajaran disiplin zending yang melekat kuat, pengaruh ajaran dari orang tua tentang peribadahan, kematian para pendahulu, ketaatan pada tradisi, kurangnya pendatang dari luar, dan tidak adanya jaringan.} }