@thesis{thesis, author={Tendeng Rifka Le’bok}, title ={Suatu Analisis tentang Dampak Kekerasan Psikis dalam Pendidikan Orang Tua terhadap Anak yang Terjadi di Gereja Toraja Jemaat Pangala'}, year={2014}, url={http://digilib-iakntoraja.ac.id/4082/}, abstract={Rifka Le'bok Tendeng: 2010, Suatu Analisis tentang Dampak Kekerasan Psikis dalam Pendidikan orang Tua terhadap Anak yang terjadi di Gereja Toraja Jemaat Pangala' Rumusan masalah yang akan dikaji dalam skripsi ini adalah: Bagaimana dampak kekerasan psikis dalam pendidikan orang tua terhadap anak yang terjadi di Gereja Toraja Jemaat Pangala'? Tujuan penelitian adalah untuk untuk mengetahui untuk mengetahui Untuk menjelaskan bagaimana dampak kekerasan psikis dalam pendidikan orang tua terhadap anak yang terjadi di Gereja Toraja Jemaat Pangala'. Dalam mendidik anak, orang tua harus dapat menerima keadaan anak apa adanya. Artinya orang tua harus menerima kelemahan dan kelebihan dari anaknya. Di Jemaat Pangala? biasa orang tua membading-bandingkan anaknya dengan anak orang lain. Padahal penerimaan orang tua terhadap anak mereka merupakan syarat awal yang mutlak untuk berhasilnya proses pendidikan. Dan anak yang tidak diterima oleh orang tuanya tidak dapat bertumbuh menjadi manusia dewasa yang berbahagia bahkan akan menjadi orang yang frustrasi berat dan gagal seumur hidup. Oleh karena itu anak harus diterima dengan senang hati sebagai seorang anak manusia yang diserahkan oleh Tuhan kepada orang tua. Selain itu masih banyak lagi bentuk kekerasan yang kadang dilakukan orang tua seperti mengancam, merendahkan, menuduh tanpa bukti dan tidak bersedia mendengarkan penjelasan anak. Banyak orang tua yang kurang memahami tanggung jawab dan peranannya, serta kurang mengerti dan memahami kebutuhan yang tepat dari seorang anak, sementara kebutuhan-kebutuhan anak sangat kompleks dan utuh yang meliputi kebutuhan psikis dan fisik. Dari hasil penelitian membuktikan bahwa Kekerasan tidak pernah memberikan dampak positif pada anak. Untuk itu dalam keluarga pendidikan kekerasan sedapat mungkin dihilangkan dan diganti dengan pendidikan berbasis kasih yang tidak lagi memandang anak sebagai orang kelas dua dengan meremehkan hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan mereka, serta menganggap dunia mereka kurang penting, tetapi anak harus dilihat sebagai pribadi yang unik, memiliki hak dan bakat yang pantas dikembangkan.} }