@thesis{thesis, author={Juriban Juirban}, title ={Misi Gereja Toraja dalam Masyarakat Plural: Kajian Teologis tentang Pandangan dan Paradigma Misi Relevan dari Gereja Toraja Jemaat Pniel Landokadawang dan Moria Redak dalam Konteks Masyarakat Plural di Wilayah Duri Kompleks-Enrekang}, year={2017}, url={http://digilib-iakntoraja.ac.id/4428/}, abstract={Juirban menyusun dengan judul Tesis: Misi Gereja Dalam Masyarakat Plural: Kajian Teologis Terhadap Paradigma Misi Gereja Toraja Jemaat Pniel Landokadawang dan Moria Redak dalam konteks plural di Duri Komplek- Enrekang. Topik ini bertitik tolak pada dasar pemikiran bahwa tidak dapat disangkali bahwa seiring degan perkembangan zaman dan perkembangan masyarakat, Gereja tidak lagi menghindari pluralitas (kemajemukan) baik dari sudut agama, suku, ras, warna kulit, dll. Dalam konteks yang demikian muncul permasalahan antara lain, pertama misi gereja dipahami orang-orang Kristen sebagai proses kristenisasi; kedua, muncul sikap curiga terhadap keluarga beda keyakinan; ketiga, muncul sikap pandangan warga jemaat terhadap warga jemaat terhadap sikap superior agama lain. Oleh karena itu, rumusan permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana pandangan warga gereja jemaat Pniel Landokadawang dan Moria Redak tentang hakikat misi Gereja Toraja dalam konteks masyarakat plural. Penelitian ini berlandaskan teori-teori dari para ahli tentang hakikat misi, sudut pandang teologis tentang misi dalam konteks plural, dimensi paradogma misi yang relevan dalam konteks masyarakat plural, misi Gereja Toraja. Dalam rangka memperoleh data yang akurat, maka metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian kuantitatif. Informan terdiri dari pendeta, penatua, diaken da warga Jemaat Pniel Landokadawang dan Moria Redak, serta imam Masjid dnan pemerintah. Hasil wawancara mendalam dan dianalisis dengan menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan Warga Gereja Toraja Jemaat Moria Redak dan Landokadawang tentang hakekat Misi Gereja Toraja dalam konteks masyarakat plural belum sepenuhnya sesuai hakekat misi yang sebenarnya, khususnya terdapat perbedaan dikalangan pimpinan gereja dan warga jemaat, pada aspek pengertian misi pejabat gereja dan sebagian warga gereja memahami bahwa misi bukan proses kristenisasi, setara sebagian warga gereja memahami bahwa misi adalah pemberitaan Injil supaya orang masuk persekutuan gereja; aspek pentingnya misi di pandangan sangat penting karena merupakan panggilan; aspek pelaku misi di satu pihak pejabat gereja memahami sebagai tugas gereja; sementara sebagian warga gereja memahami sebagai tugas pejabat gereja khususnya pendeta; dan aspek metode misi dominan memahami bahwa metode yang perlu digunakan dalam melaksanakan misi atau pekabaran Injil bukan hanya ke dalam warga gereja melalui khotbah atau kesaksian dalam kebaktian-kebaktian, pembinaan, melainkan juga kepada umat kepercayaan lain melalui dialog karya nyata yaitu baik dalam keijasama sosial, kesehatan, tani serta bangunan teologi kontekstual dan partisipasi dalam forum kerukunan antar umat beragama.} }