@thesis{thesis, author={Sudibyo Joko}, title ={Layange Simbokku}, year={2011}, url={http://digilib.isi.ac.id/11320/}, abstract={Layange Simbokku merupakan Judul yang dipilih dalam garapan karya ini. Arti dari kata tersebut adalah suratnya ibuku. Karya ini menceritakan seorang ibu tuna aksara yang mampu bertahan untuk menghidupi anaknya. Berawal dari pengalaman empiris secara langsung ide garapan ini muncul kemudian diwujudkan dalam bentuk karya tari. Penggarapan karya tari ini terinspirasi dari ibu penata. lbu penata adalah penyandang tuna aksara yang hingga saat ini masih belum bisa membaca dan menulis. Beliau menikah di era akhir tahun 1960an dengan usia yang masih sangat belia dan belum sempat mengeyam pendidikan. Keterbatasan biaya dan keadaan Indonesia yang belum stabil pasca perang kemerdekaan menjadi menjadi penyebab utama. Realita yang terjadi pada zaman sekarang bahwa ibu penata bukanlah satu satunya penyandang buta aksara, akan tetapi masih banyak penyandang buta aksara yang mengalami nasib lebih parah. Pengalaman empiris yang menggelitik penata untuk menggarap karya ini menjadi lebih bermakna adalah kasih sayang. Sebuah ungkapan rasa cinta seorang ibu kepada anaknya. Naluri tulus dan harapan akan cita-cita untuk hidup lebih baik menjadi modal utama seorang ibu mendidik anak-anaknya. Sebuah kalimat bijak menyampaikan "Setiap manusia memiliki impian karena impian itulah yang akan meneruskan hidup kita." Karya ini juga menyampaikan sebuah impian dari seorang ibu tuna aksara. Keterbatasannya memberikan semangat bekerja keras untuk meraih impiannya . Impian itu beliau sampaikan kepada anakĀ­ anaknya yaitu impian agar hidup menjadi lebih baik. Karya ini ditarikan oleh seorang penari tunggal dan sebelas penari figuran. Menceritakan seorang ibu tuna aksara dengan kasih sayang yang tulus beliau menyampaikan pesan-pesan berharga untuk meraih impian.} }