@thesis{thesis, author={Sutapa Slamet}, title ={Penyajian Gendhing Gendreh Laras Pelog Pathet Barang Dan Gendhing Cengbarong Kalajengaken Ladrang Uluk-Uluk Slendro Pathet Sanga Gaya Yogyakarta}, year={2005}, url={http://digilib.isi.ac.id/15929/}, abstract={Gending-gending gaya Yogyakarta menjadi salah satu kekayaan dalam Seni Karawitan Jawa. Kekayaan ini bagi para seniman merupakan suatu tantangan untuk menjaga, melestarikan, mengembangkan serta menyebarluaskan, agar gendinggending gaya Yogyakarta dapat tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.Penyajian gending gaya Yogyakarta biasanya disajikan dengan dua garap yaitu soran dan lirihan. Dalam penulisan ini Gending Gandreh laras pelog patet barang disajikan dengan garap soran, sedangkan Gending Cengbarong laras slendro patet sanga disajikan dengan garap lirihan. Funsi dari Gending gandreh laras pelog patet barang dalam lingkungan Keraton Yogyakarta ialah sebagai sarana penghormatan tamu. Gending Gendreh laras pelog patet barang diciptakan oleh KRT. Kertonegoro yang lebih dikenal dengan nama KPH. Purwodiningrat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1889 Gending Cengbarong laras slendro patet sanga populer pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Fungsi Gending Cengbarong pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII sebagai iringan tari yaitu Tari Sekar Maduro, selain itu juga sebagai iringan wayang orang Keraton Yogyakarta pada jejer terakhir yang disebut Gonjang Anom. Gending Gendreh laras pelog patet barang disajikan dengan garap soran mempunyai karakter gagah, agung, sedangkan Gending Cengbarong kendhangan Candra Laraciblon mempunyai karakter agung dan prenes.} }