@thesis{thesis, author={Krystiadi NIM. 0310063016}, title ={Lakon Bra Tayuda Versi Jombor Sebuah Kajian Struktural}, year={2010}, url={http://digilib.isi.ac.id/2292/}, abstract={Lakon Bratayuda versi Jombor yang dipentaskan oleh Kristiaji yang terekam oleh kaset Compact Disc merupakan salah satu dari versi lakon wayang dalam tradisi pewayangan gaya Surakarta. Hal tersebut terlihat dalam penggunaan bahasa, sulukan, dhodhogan-keprakan, gendhing iringan dan caking pakeliran. Untuk memperoleh teks wayang Bratayuda versi Jombor yang dipakai sebagai bahan kajian, dilakukan transkripsi pentas wayang Bratayuda versi Jombor. Tujuan transkripsi ini selain sebagai bahan kajian juga berfungsi sebagai dokumentasi salah satu versi lakon wayang tradisi pewayangan gaya Surakarta. Berbagai hal yang berkaitan dengan pementasan lakon Bratayuda versi Jombor seperti lakuan dalang serta iringan yang meliputi, sulukan, kombangan, janturan, pocapan, ginem, dhodhogan-keprakan, genderan dan vareasi penggunaan iringan wayang. Semua ditranskripsi menggunakan tanda-tanda tertentu sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Penggunaan tanda-tanda itu akan mernbantu pernbaca dalam memaharni keseluruhan pentas lakon wayang Bratayuda versi Jornbor sebagai satu kesatuan yang utuh dan bahan apresiasi. Pada dasamya cerita lakon Bratayuda mempunyai susunan yang sama dengan cerita pada umurnnya. Sebuah cerita disusun oleh pelaku, perbuatan dan penderita. Pelaku dalarn cerita lakon Bratayuda versi Jombor tidak selalu melakukan perbuatan secara langsung. Terkadang, perbuatan dilakukan oleh tokoh lain di luar dirinya. Perbuatan atau tindakan dalam cerita wayang klulit purwa bisanya berupa tindakan perjalanan , penculikan, pencarian, pembunuhan atau perang dan sebagainya. Penderita dalam cerita lakon wayang kulit purwa tidak selalu pihak yang menjadi target sasaran. Seorang wakil pelaku terkadang dapat menjadi pihak penderita. Penderita dalam cerita lakon wayang kadang kala kehadirannya tertunda di adegan yang lain dan dalam kerangaka pathet yang berbeda. Penundaan tersebut biasanya ditandai dengan su/ukan, pergantian adegan maupun pergantian pathet. Ketiga unsur tersebut yang terpenting adalah perbuatan yang kemudian disebut dengan fungsi. Fungsi dianggap penting karena fungiĀ­ fungsi itulah yang membentuk sebuah cerita. Fungsi cerita lakon Bratayuda yang telah teridentifikasi dapat dikelompokkan menjadi tujuh lingkungan tindakan. Tujuh lingkungan itu adalah lingkungan tindakan Pahlawan, penjahat, penolong, pendonor, penagih janji, penghubung, dan dewa. Selain tujuh fungsi tersebut terdapat fungsi-fungsi di luar ke tujuh lingkungan tindakan. Fungsi- fungsi itu biasanya berupa perang. Fungsi pelaku dalam cerita lakon Bratayuda rupanya tidak bisa dikelompokkan dalam satu lingkungan tindakan secara utuh. Misalnya tokoh Prabu Salya mempunyai dua lingkungan tindakan yaitu lingkungan tindakan penjahat dan penolong. Hal ini terlihat ketika Adipati sedang membidik Raden Janaka dengan senjata Kuntawijayadanu, tiba-tiba kereta dipacu oleh Prabu Salya. Akibatnya perbuatan Prabu Salya, senjata Kuntawijayadanu tidak tepat mengenai sasaran. Jadi, pelaku pada cerita lakon Bratayuda tergantung fungsi pelaku. Sebagai studi awal tentang morfologi wayang, fungsi cerita lakon wayang Bratayuda versi Jombor masih terbatas jumlahnya. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya sangat dibutuhkan sehingga akan ditemukan morfologi cerita lakon wayang kulit purwa yang lebih sempurna. Dilihat dari pergerakan ceritanya lakon Bratayuda versi Jombor mempunyai tipe alur paralel. Artinya cerita lakon Bratayuda mempunyai dua alur yang bergerak bersama-sama kemudian bertemu di perang. Dua pergerakan yang ada dalam cerita lakon Bratayuda adalah alur pihak Pandawa dan pihak Kurawa. Pergerakan cerita lakoan Bratayuda versi Jombor tersebut dalam penyajiannya masih disusun sesuai pola tradisi. Lakon Bratayuda versi Jombor dilihat dari teknik alurnya dibagi menjadi tiga bagian yang disebut Pathet . Ketiga pathet itu adalah Pathet Nem, Pathet Sanga dan Pathet Manyura. Masing-masing pathet tersusun oleh tiga bagian yaitu jejer, adegan dan perang. Bagian pathet tersebut dibagi lagi menjadi tiga bagian yang disebut deskripsi, dialog atau ginem dan tindakan. Pola-pola tersebut bukanlah merupakan aturan yang mutlak dilaksanakan oleh dalang dalam melaksanakan pementasan. Sebagai contoh adegan Sengkuni di Kurusetra; Adegan candhakan Bambang Aswatama Patih Sengkuni dan Pendhita Duma; Perang Prabu Baladewa dengan Raden Werkudara. Adegan dan perang tersebut hanya terdiri dari dua unsur, yaitu ginem dan tindakan. Struktur pementasan lakon tradisi pewayangan Surakarta terdiri dari urutĀ­ urutan yang mapan seperti yang ditulis oleh Nojowirongko (lihat halaman 156- 159). Pedoman ini tidak bersifat kaku, artinya masih terbuka kemungkinan untuk mengadakan perubahan sesuai dengan kebutuhan penceritaan lakon yang akan dipentaskan. Perubahan ini berkaitan dengan panjang pendek lakon yang mempengaruhi susunan pembabakan lakon. Perubahan yang terjadi pada penyajian lakon Bratayuda versi Jombor terlihat dari pengurangan dan penambahan dari urutan yang map} }