@thesis{thesis, author={Firdausi Firdausi}, title ={PERAN TAREKAT TIJANIYAH DALAM PENDIDIKAN NON FORMAL DI PRENDUAN SUMENEP MADURA}, year={2013}, url={http://digilib.uinsby.ac.id/10490/}, abstract={Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tentang peran tarekat tijaniyah di Prenduan terhadap pendidikan non formal yang mereka berikan pada masyarakat setempat, dan mengetahui beberapa kegiatan tarekat tijaniyah yang berkenaan dengan ritual amalan-amalannya yang dijadikan media dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt, Rasulullah Saw, dan Syekh At-Tijani selaku Khatamul Auliya. Di lain sisi, penelitian ini dapat mengetahui upaya para tokoh-tokoh tarekat tijaniyah di Prenduan seperti; Kiai Djauhari Chotib, Kiai Tidjani Djauhari dan para murid-muridnya dalam mengarahkan masyarakat Prenduan lebih baik serta menciptakan nilai-nilai Keislaman pada diri pribadi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi lapangan. Sumber datanya adalah dokumen, rekaman kuantitatif, rekaman oral, dan peninggalan-peninggalannya baik yang berbentuk karya ilmiahnya ataupun juga yang berbentuk amaliahnya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model analisis data yang paling banyak digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu metode perbandingan tetap (Constant Comparative Method) dan secara umum, proses analisis datanya mencakup: reduksi data, kategorisasi, sintesisasi, menyusun hipotesis kerja, pengecekan keabsahan data, perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi kemudian penarikan kesimpulan. Pertama, salah satu bentuk kegiatan tarekat tijaniyah adalah pengajian kitab kuning yang berlangsung selama 1 minggu 1 kali di kediaman tokoh tarekat, masjid Gemma, majlis tijani, dan di Pangghung Onggaan Prenduan. Kedua, selain itu, kegiatan kompolan musytaffiien bagi muslimat bertujuan menghilangkan kebiasaan jelek masyarakat Prenduan. Kegiatannya biasanya dilaksanakan Jumat sore. Isi dari acara tersebut berupa pembacaan yasin, tahlil, shalawat fatih, istighfar, dan kalimat hailalah. Ketiga, tokoh tarekat tijaniyah sangat peduli terhadap pendidikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya madrasah Matlabul Ulum Diniyah, Pondok Tegal, TIBDA dan Pesantren Al-Amien. Keempat, tokoh tarekat tijaniyah peduli dalam melestarikan budaya Madura yang kuat dengan nilai-nilai Keislamannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya BASSRA (badan silaturrahmi ulama se-Madura) yang di koordinatori oleh Kiai Tidjani selaku tokoh tarekat tijaniyah di Prenduan.} }