@thesis{thesis, author={Fahmi Faruq}, title ={Islam liberal studi atas pemikiran keagamaan Jaringan Islam Liberal (JIL)}, year={2010}, url={http://digilib.uinsby.ac.id/8143/}, abstract={Islam liberal pada dasarnya lahir dari modernitas, disaat mayoritas umat Islam konservatif mendengungkan untuk kembali pada korpus resmi ajaran; Qur'an dan Hadits, dengan metode penafsiran tekstual dan memimpikan serta memperjuangkan suatu keadaan seperti masa awal islam. Momentum ini dimanfaatkan oleh Islam Liberal dengan mendeklarasikan kebebasan berfikir dalam membaca korpus resmi tersebut sebagai metodologi tandingan aliran Islam yang konservatif. Kebebasan berfikir tersebut tidak hanya yang kemudian menurunkan pola penafsiran yang sebenarnya banyak mengadopsi beberapa teori maupun pemikiran barat, seperti semiotika, hermeneutika, structural maupun analisa wacana. Skripsi ini mengambil fokus sejarah Jaringan Islam Liberal serta kritik terhadap epistemology yang melatarinya. Islam liberal yang menemukan momentum eksistensinya di Indonesia pada tahun 1970-an banyak mengalami perkembangan sampai sekarang. Akan tetapi, walaupun banyak mengalami perubahan dan perkembangan tetap basis epistemology yang melatarinya tidak beranjak dan berbeda. Disamping mengambil fokus pembahasan di atas skripsi ini menggunakan metodologi kualitatif-induktif yang dimaksudkan sebagai penekanan atas data-data yang diperoleh dari sumber primer sebagai validitas data. Sedangkan jenis penelitian ini adalah histories-faktual, yaitu menelusuri dengan detail munculnya suatu gerakan pemikiran, dalam konteks ini adalah Jaringan Islam Liberal yang berkembang di Indonesia. Skripsi ini menyimpulkan bahwa kelemahan gagasan Jaringan Islam Liberal atau reaksi mereka terhadap kenyataan tidak dibarengi dengan implementasi riil yang dapat dirasakan oleh umat Islam secara luas, sehingga menyadarkan mereka bahwa karya mereka bermanfaat bagi umat (baik secara teoritis maupun praksis). Juga tidak jarang lebih menekankan pada wilayah wacana, apologetik dan berbangga diri sehingga melahirkan arogansi intelektual.} }