@thesis{thesis, author={Al Imron Moh.}, title ={SHALAT ENAM RAKA'AT BA'DA MAGHRIB (SHALAT AWWÂBÃŽN) DALAM KITAB SUNAN IBNU MAJAH NOMOR INDEK 1374 : KUALITAS HADIS DALAM KITAB SUNAN IBNU MAJAH YANG DI TAHQIQ OLEH SHIDQI JAMIL AL-'AHTHAR}, year={2010}, url={http://digilib.uinsby.ac.id/8768/}, abstract={Ibadah adalah merupakan sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridloi Allah SWT, baik berupa ucapan atau perbuatan yang zhahir maupun bathin. Bentuk ibadah itu beragam, salah satunya adalah ibadah shalat. Shalat mempunyai kedudukan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena shalat itu adalah tiang agama. Ibadah shalat termasuk amalan lisan, hati dan perbuatan anggota badan. Dalam persoalan ibadah, seseorang tidak boleh membuat syariat dan aturan sendiri. Demikian juga dalam persoalan ibadah shalat, harus ada contoh dan teladan dari Nabi Muhammad SAW. Contoh dan teladan itu dapat diketahui dari hadis-hadisnya Nabi Muhammad SAW. Dan hadis-hadis yang dapat dipakai adalah yang tingkatannya shahih dan minimal hasan. Sedangkan hadis-hadis yang dla'îf harus ditinggalkan dan jangan diamalkan. Penelitian ini mencoba menjawab persoalan terkait dengan shalat satu macam shalat sunat, yaitu shalat enam raka'at ba'da Maghrib (shalat Awwâbîn) yang dikerjakan setelah shalat Maghrib hingga shalat Isya' yang terdapat dalam Sunan Ibnu Majah. Dan untuk menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah yaitu mengapa dan siapa yang menyebutkan bahwa shalat enam raka'at ba'da Maghrib dinamakan shalat Awwâbîn? bagaimana kualitas hadis tentang shalat enam rakaâ??at baâ??da Maghrib (shalat Awwâbîn)? dan bagaimana kehujjahan dan pemaknaan hadis tersebut? Adapun dalam membahas permasalahan tersebut, diperlukan data primer, yang di peroleh dari kitab-kitab atau buku-buku yang secara khusus membahas tentang inti atau pokok masalah. Sedangkan data sekunder, di peroleh dari buku-buku yang digunakan untuk mendukung permasalahan pokok yang dibahas. Dan dalam menganalisa data tersebut peneliti menggunakan metode takhrîj, kritik sanad, kritik matan, kehujjahan dan pemaknaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis tentang shalat enam rakaâ??at baâ??da Maghrib (shalat Awwâbîn) dalam Sunan Ibnu Majah dari segi sanad hadis bernilai dlaâ??îf, karena dalam hadis tersebut ada seorang perawi yang dianggap punya cacat, yaitu â??Umar bin Abi Khasâ??am, Ia dianggap dlaâ??îf jiddan, munkar al-hadis dan wâhî al-hadis oleh para kritikus hadis. Namun, karena ada hadis-hadis lain yaitu riwayat dari Abu Dawud, Ahmad dan al-Tirmidzi yang mempunyai makna yang sama dengan hadis Ibnu Majah, maka derajat hadis Ibnu Majah ini status hadis berubah menjadi Hasan Li Ghairihi. Oleh sebab itu, hadis ini termasuk hadis yang dapat dipakai sebagai hujjah dan dapat diamalkan (maqbul maâ??mulun bihi), yaitu tentang adanya shalat sunat baâ??da Maghrib atau shalat Awwâbîn.} }