@thesis{thesis, author={Ayu Rahmah Fadillah 1810301179 and Fitri Yani SST.ST. and Siti Nadhir Ollin Norlinta S.St.Ft}, title ={Perbedaan single leg stand dan star excursion balance test terhadap keseimbangan statis atlet sepak bola pesat tempel pasca cedera sprain ankle}, year={2022}, url={http://digilib.unisayogya.ac.id/6402/}, abstract={Latar Belakang : Gangguan keseimbangan dapat mengakibatkan turunnya performa atlet sepakbola dilapangan, terutama pada keseimbangan statisnya.Keseimbangan statis adalah kemampuan yang diperlukan seseorang untuk mempertahankan tubuh dalam posisi diam atau tanpa bergerak. Adapun latihan yang dapat meningkatkan keseimbangan pada atlet sepakbola yaitu dengan Single Leg Stand dan Star Excursion Balance Test. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah perbedaan Single Leg Stand dan Star Excursion Balance Test terhadap peningkatan keseimbangan statis pada atlet sepakbola. Metode : penelitian ini menggunakan Quasi Experimental dengan teknik Purposive Sampling dengan Pre And Post Design. Dan metode yang digunakan dalam penarikan sampel menggunakan total sampling. Dengan kelompok I diberikan perlakuan Single Leg Stand dan kelompok II diberikan perlakuan Star Excursion Balance Test. Latihan diberikan sebanyak 3 kali seminggu selama 3 minggu. Alat ukur yang digunakan yaitu Y Balance Test. Hasil : Hasil Uji Hipotesis I menggunakan Paired Sample T-test diperoleh nilai p=0,001 (p<0,05) dan hasil Hipotesis II menggunakan Paired Sample T-test diperoleh nilai p=0,002 (p<0,05). Lalu pada hasil hipotesis III menggunakan Independent Sample T-test diperoleh nilai p=0,864 (p>0,05) pada kaki kanan dan p=0,989 (p>0,05) pada kaki kiri. Kesimpulan : Kedua perlakuan memiliki pengaruh terhadap peningkatan keseimbangan statis tetapitidak ada perbedaan pengaruh pemberian latihan Single Leg Stand dan Star Excursion Balance Test terhadap peningkatan keseimbangan statis atlet sepakbola. Saran : Pada penelitian ini disarankan latihan dilakukan lebih dari 3 minggu agar mendapatkan hasil yang optimal. Atau juga dapat dilakukan kurang dari 3 minggu, untuk melihat apakah ada pengaruh atau tidak dan lebih memperhatikan aktivitas yang dilakukan responden dalam kesehariannya.} }