@thesis{thesis, author={Rofiq Fakhrur Razi 1711304098 and Yeni Rahmawati S.Si. and Yuyun Nailufar S.Si.}, title ={Literature review: Pengaruh pemberian metanil yellow dosis bertingkat terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus}, year={2022}, url={http://digilib.unisayogya.ac.id/6677/}, abstract={Metanil Yellow merupakan bahan pewarana sintetik berbentuk serbuk, berwarna kuning kecoklatan, bersifat larut air dan alkohol, agak larut dalam enzen dan eter, serta sedikit larut dalam aseton. Pewarna ini umumnya digunakan sebagai pewarna pada tekstil, kertas, tinta, plastik, kulit, dan cat, serta sebagai indikator asam-basa di laboratorium. Namun pada prakteknya, di Indonesia pewarna ini sering disalahgunakan untuk mewarnai berbagai jenis pangan antara lain kerupuk, mie, tahu, dan jajanan yang berwarna kuning, seperti gorengan. Berdasarkan struktur kimianya, metanil yellow dan beberapa pewarna sintetik dikategorikan dalam golongan azo. Namun, metanil yellow termasuk pewarna golongan azo yang telah dilarang digunakan pada pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Metanil Yellow dosis bertingkat terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus. Penelitian ini mengunakan metode telaah literature review yang dilakukan dari beberapa sumber data antara lain Google scholar dan Pubmed dengan menggunakan kata kunci pola PICO. Berdasarkan penelitian pada empat jurnal literature menunjukkan dosis metanil yellow atau pewarna makanan yang diperoleh yaitu 0,5 mg/mL, 1 mg/mL, 10 mg/mL, 3 gr/mL, 25 mg/Kg, 50 mg/kg, 75 mg/Kg 100 mg/kg, 200 mg/kg. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin besar pemberian pewarna makanan terutama metanil yellow atau pewarna lainnya semakin besar kemungkinan mengalami kerusakan jaringan hispatologi pada ginjal. Pengaruh pemberian metanil yellow dosis bertingkat terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus antara lain terjadinya inflamasi, degenerasi sel, nekrosis, serta berdampak pada penurunan albumin dalam ginjal.} }