@thesis{thesis, author={Hidayat Bayu Rizkia}, title ={Konformitas Tokoh Keiko Furukura Pada Novel Konbini Ningen Karya Sayaka Murata}, year={2021}, url={http://elibrary.unikom.ac.id/id/eprint/5154/}, abstract={Penelitian ini dilatarbelakangi oleh stigma atau standar yang kerap kali ditemui dalam kelompok masyarakat tertentu. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk konformitas dan faktor yang mempengaruhi terjadinya konformitas pada tokoh Keiko Furukura dalam novel Konbini Ningen karya Sayaka Murata. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif analisis dengan pendekatan psikologi sastra. Teori utama yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori tentang konformitas yang diungkapkan Myers serta teori pendukung tentang konformitas yang diungkapkan Sunarto dan Prayitno. Lalu, untuk menganalisis data penulis menggunakan teori struktur kepribadian Sigmund Freud yang berikaitan dengan hasrat (id) pertimbangan baik dan buruk (superego) dan pelaksana dari kedua hal tersebut (ego) serta teori karakterisasi yang diungkapkan oleh Nurgiyantoro untuk kemudian dikaitkan dengan konformitas agar ditemukan simpulan yang padu. Data yang menjadi objek penelitian berupa kutipan-kutipan bentuk konformitas dan faktor yang mempengaruhi terjadinya konformitas pada tokoh Keiko Furukura. Bentuk konformitas tokoh Keiko Furukura terdapat tujuh kutipan, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konformitas pada tokoh Keiko Furukura delapan belas kutipan. Hasil analisis data dalam penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat dua bentuk konformitas pada tokoh Keiko Furukura adalah konformitas pemenuhan dan konformitas internalisasi, dalam konformitas pemenuhan aspek (superego) lebih dominan sedangkan dalam konformitas internalisasi aspek (id) lebih dominan, lalu faktor yang mempengaruhi terjadinya konformitas pada tokoh Keiko Furukura adalah tekanan kelompok dan pengaruh dari orang yang disukai. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca tentang fenomena konformitas sehingga interaksi dalam ruang lingkup sosial dapat berjalan dengan lebih sehat.} }