@thesis{thesis, author={Maji Bahrul}, title ={ANALISIS YURIDIS KEKUATAN PEMBUKTIAN \r\nKETERANGAN SAKSI TESTIMONIUM DE AUDITU \r\nPADA PERKARA ISTBAT NIKAH DALAM \r\nPERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM ACARA \r\nPERDATA DI INDONESIA}, year={2026}, url={http://eprints.uniska-bjm.ac.id/38015/}, abstract={ABSTRAK \r\nBahrul Maji, 2309060089. 2025. Analisis Yuridis Kekuatan Pembuktian \r\nKeterangan Saksi Testimonium De Auditu Pada Perkara Istbat Nikah Dalam \r\nPerspektif Hukum Islam Dan Hukum Acara Perdata Di Indonesia. \r\nPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan pembuktian keterangan saksi \r\ntestimonium de auditu dalam perkara itsbat nikah serta pertimbangan hukum \r\nhakim dalam menerima dan menilainya ditinjau dari aspek kepastian hukum dan \r\nkeadilan. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan \r\nperundang-undangan, konseptual, dan perbandingan antara Hukum Acara Perdata \r\ndan Hukum Islam. Bahan hukum dianalisis secara kualitatif melalui metode \r\ndeskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Hukum Acara \r\nPerdata Indonesia, keterangan saksi testimonium de auditu tidak memiliki \r\nkekuatan pembuktian sempurna karena tidak memenuhi syarat materiil kesaksian \r\nyang mensyaratkan pengalaman langsung. Kesaksian tersebut tidak dapat berdiri \r\nsendiri, melainkan hanya bernilai sebagai bukti pelengkap atau dasar \r\npembentukan persangkaan hakim yang harus didukung alat bukti lain. Dalam \r\nkondisi tertentu, sumpah supletoir dapat digunakan untuk memperkuat rangkaian \r\npembuktian. Dalam perspektif Hukum Islam, bentuk yang sepadan yaitu \r\nsyahadah al-istifadhah dapat diterima secara terbatas dalam perkara nikah dan \r\nnasab sepanjang memenuhi unsur kemasyhuran informasi dan tidak terdapat \r\nbantahan yang kuat. Pertimbangan hakim dalam menerima dan menilai \r\ntestimonium de auditu dilakukan secara proporsional sebagai bagian dari \r\nrangkaian pembuktian yang saling menguatkan, sehingga tetap menjaga kepastian \r\nhukum dan mencegah kesewenang-wenangan dalam penilaian bukti. Pendekatan \r\ntersebut sekaligus mewujudkan keadilan substantif melalui perlindungan status \r\nhukum perkawinan dan hak-hak keperdataan para pihak. Dalam perspektif \r\nmaqashid syariah, penerimaan terbatas terhadap kesaksian istifadhah merupakan \r\nupaya menjaga kemaslahatan tingkat daruriyyah, khususnya perlindungan \r\nketurunan (hifẓ al-nasl), sehingga putusan tidak hanya sah secara prosedural, \r\ntetapi juga berorientasi pada perlindungan hak dan tertib sosial. \r\nKata Kunci: itsbat nikah, testimonium de auditu, syahadah al-istifaḍah \r\n\r\n\r\n\r\n\r\nABSTRACT \r\nBahrul Maji, 2309060089. 2025. Juridical Analysis of the Evidentiary Value of \r\nTestimonium De Auditu Witness Testimony in Itsbat Nikah Cases from the \r\nPerspectives of Islamic Law and Civil Procedural Law in Indonesia \r\nhis research aims to analyze the evidentiary value of testimonium de auditu \r\nwitness testimony in itsbat nikah (judicial validation of marriage) cases and to \r\nexamine judicial considerations in accepting and assessing such testimony from \r\nthe perspectives of legal certainty and justice. This study employs a normative \r\nlegal research method using statutory, conceptual, and comparative approaches \r\nbetween Indonesian Civil Procedural Law and Islamic Law. Legal materials were \r\nanalyzed qualitatively through a descriptive-analytical method. The findings \r\nindicate that under Indonesian Civil Procedural Law, testimonium de auditu does \r\nnot possess full evidentiary force because it fails to satisfy the material \r\nrequirements of witness testimony, which require direct personal knowledge of the \r\ndisputed facts. Such testimony cannot stand independently as primary evidence \r\nbut serves only as supplementary evidence or as the basis for judicial \r\npresumption, which must be supported by other admissible evidence. In certain \r\ncircumstances, a supplementary oath (sumpah supletoir) may be administered to \r\nstrengthen the evidentiary framework. In Islamic Law, the comparable concept of \r\nsyahadah al-istifadhah may be accepted in a limited manner in matters \r\nconcerning marriage and lineage, provided that the information has attained \r\npublic notoriety and is not subject to substantial contradiction. Judicial \r\nconsideration in admitting and evaluating testimonium de auditu is conducted \r\nproportionally within the evidentiary system, thereby maintaining legal certainty \r\nand preventing arbitrary assessment of evidence. Simultaneously, this approach \r\npromotes substantive justice by safeguarding marital status and the civil rights of \r\nthe parties. From the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah, the limited acceptance \r\nof such testimony reflects the protection of essential interests (daruriyyah), \r\nparticularly the preservation of lineage (ḥifẓ al-nasl), ensuring that judicial \r\ndecisions are not only procedurally valid but also socially protective. \r\nKeywords: itsbat nikah, testimonium de auditu, syahadah al-istifaḍah} }