@thesis{thesis, author={Christy Susanie Amanda}, title ={VICTIM BLAMING OLEH MEDIA MASSA ONLINE DALAM MEMBERITAKAN FEMISIDA DI ASIA TENGGARA: STUDI KASUS INDONESIA PADA MASA PANDEMI COVID-19 TAHUN 2019-2021}, year={2024}, url={https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/28122/}, abstract={Femisida merupakan sebuah tren internasional yang artinya tidak hanya terjadi di negara-negara tertentu, namun terjadi secara global dengan jumlah yang masif. Menurut data dari Komnas Perempuan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus femisida yang tinggi, khususnya pada masa pandemi Covid-19. Banyaknya jumlah kasus tersebut meningkatkan peran media massa online sebagai penyalur informasi kepada masyarakat. Namun demikian, meningkatnya peran media massa online tersebut justru memunculkan kekhawatiran terkait akankah media dapat memberitakan secara adil atau tidak memberatkan salah satu pihak saja. Penelitian ini menjadi penting untuk melengkapi penelitian terdahulu sehingga diharapkan dapat menjawab bagaimana peran media massa online Indonesia dalam menyebarkan persepsi victim blaming pada kasus femisida di Indonesia. Penelitian ini dikaji menggunakan teori feminisme komunikasi, pendekatan framing, dan viktimologi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan sumber data sekunder berupa buku, jurnal, serta pernyataan-pernyataan yang dikutip oleh sumber kedua seperti website dan media massa online lainnya. Teknik pengumpulan data menggunakan metode desk research yang mana memanfaatkan data atau laporan yang telah tersedia, dimana dalam penelitian ini menggunakan internet research. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan kasus femisida di Indonesia oleh media massa online pada tahun 2019-2021 tidak diberitakan secara netral. Dalam pemberitaan tersebut, korban kasus femisida seringkali mendapat victim blaming karena dianggap menjadi penyebab tersulutnya emosi pelaku sehingga terjadi femisida. Korban dalam konteks kasus femisida ialah pihak yang telah kehilangan nyawanya sehingga tidak dapat lagi menyuarakan ketidakadilan yang menimpanya. Korban femisida yang seharusnya mendapat pembelaan karena statusnya sebagai ?korban? justru mendapat justifikasi atas kejadian yang menimpanya. Kata Kunci: Femisida, Media Massa Online, Framing, Victim Blaming} }