@thesis{thesis, author={Namira Alisya Cahya}, title ={HUBUNGAN KOMPETENSI LITERASI DIGITAL DAN TINGKAT FEAR OF MISSING OUT (FOMO) TERHADAP PERILAKU PENYEBARAN HOAKS POLITIK DI MEDIA SOSIAL PADA KALANGAN GENERASI KEDUA DIGITAL NATIVES}, year={2024}, url={https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/28565/}, abstract={Tingginya penggunaan media sosial sebagai sumber informasi dan kemudahan dalam menyebarkan serta memproduksi informasi yang ditawarkan oleh fitur-fitur di media sosial menjadikan penyebaran informasi termasuk hoaks semakin masif. Generasi kedua digital natives memiliki indeks literasi digital yang tinggi, namun di sisi lain memiliki tingkat fear of missing out (FoMO) yang tinggi. Penelitian ini menganalisis apakah terdapat hubungan antara kompetensi literasi digital dan fear of missing out (FoMO) dengan perilaku penyebaran hoaks politik di media sosial pada kalangan generasi kedua digital natives. Hipotesis yang didasarkan oleh Social Judgment Theory dan Social Comparison Theory. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, melibatkan sebanyak 100 responden dengan kriteria sampel penelitian adalah kelompok masyarakat Provinsi Jawa Tengah, generasi kedua digital natives dengan rentang usia 14 ? 27 tahun, memiliki akun media sosial yang digunakan setiap hari, dan pernah menerima informasi hoaks politik di media sosial minimal 1 kali dalam enam bulan terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi literasi digital dan perilaku penyebaran hoaks politik di media sosial pada kalangan generasi kedua digital natives memiliki hubungan negatif dengan signifikansi 0,021 dan nilai koefisien korelasi dari output hasil pengujian sebesar -0,171. Sementara fear of missing out (FoMO) dengan perilaku penyebaran hoaks politik di media sosial pada kalangan generasi kedua digital natives memiliki nilai signifikansi sebesar 0,213 sehingga disimpulkan tidak memiliki hubungan. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan adanya hubungan negatif antara kompetensi literasi digital dengan perilaku penyebaran hoaks politik di media sosial pada kalangan generasi kedua digital natives diterima. Hal ini menandakan bahwa semakin tinggi kompetensi literasi digital seseorang maka perilaku penyebaran hoaks politik di media sosial generasi kedua digital natives rendah meskipun hubungannya sangat lemah. Kemudian, hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara tingkat fear of missing out dengan perilaku penyebaran hoaks politik di media sosial pada kalangan generasi kedua digital natives ditolak.} }