@thesis{thesis, author={Cahyani Lutfiah Setyo}, title ={KOLEKTIF SEBAGAI UPAYA DEKOLONISASI: PRAKTIK LUMBUNG DALAM PAMERAN INTERNASIONAL DOCUMENTA FIFTEEN}, year={2024}, url={https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/28989/}, abstract={Abad ke-20 menandai era dekolonisasi formal negara-negara Asia-Afrika, namun kolonialitas terus berlangsung dalam bentuk dominasi pengetahuan dan caracara mengalami dunia yang Eurosentris. Konferensi Bandung 1955 melahirkan warisan penting dalam visi masyarakat paskakolonial, yaitu spirit Bandung tentang upaya dekolonisasi di berbagai bentuk untuk mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil dan setara. Spirit Bandung sering tercermin dalam inisiatif kerja sama ekonomi seperti BRICS, BRI dan NDB yang menunjukkan pergeseran kekuatan ekonomi oleh Global Selatan. Namun, inisiatif ini masih mereproduksi kolonialitas dalam bentuk kerangka kerja kapitalisme. Oleh karenanya, dekolonisasi juga diperlukan dalam ranah pengetahuan dan cara-cara mengalami dunia. Aktivitas kesenian menjadi medium untuk mengupayakan dekolonisasi pengetahuan dan pengalaman tersebut. Sejak masa kolonialisme Barat hingga kolonialitas yang dimotori kapitalisme global, aktivitas kesenian selalu memiliki peran ganda sebagai produsen kolonialitas maupun dekolonisasi itu sendiri. Pusat-pusat seni di dunia Barat seperti documenta di Kassel, Jerman menjadi salah satu agen yang mereproduksi kolonialitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seri kelima belas documenta, yaitu documenta fifteen yang didireksi ruangrupa dan peranannya dalam upaya dekolonisasi pengetahuan dan pengalaman sebagai warisan Konferensi Bandung. Analisis menggunakan teori modernity/coloniality/decoloniality dengan konsep border thinking dan estetika dekolonial. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan konsep pameran berbasis nilainilai lumbung tentang ekonomi kolektivitas, penciptaan sumber daya bersama dan distribusi yang adil telah menghadirkan pilihan lain dari kolonialitas. Pameran ini mempertemukan berbagai subjek dan pengetahuan Global Selatan tentang luka akibat kolonialisme, kapitalisme, dan patriarki, serta membuka ruang dialog mengenai kemungkinan dunia yang terlepas dari kekuasaan kolonialitas. Pengetahuan dan pengalaman yang berakar dari Global Selatan menjadi upaya dekolonisasi untuk melepaskan tautan dari dominasi Eurosentris dan implikasinya dalam membayangkan tatanan dunia yang lebih adil dan setara. Kata kunci: spirit Bandung, kolonialitas, dekolonisasi, documenta fifteen, lumbung, kolektif 139 HI 2024} }