@thesis{thesis, author={Mukodiningsih Sri and Rahayu Alfiana Listia and Tampoebolon Baginda I. M}, title ={KAJIAN PEMBERIAN PAKAN KOMPLIT DALAM BENTUK BERBEDA TERHADAP PALATABILITAS DAN PENAMPILAN PRODUKSI KAMBING LOKAL}, year={2022}, url={https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/29753/}, abstract={Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh perlakuan perbedaan bentuk pakan (mash, wafer dan pellet) terhadap palatabilitas, konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian dan efisiensi pakan kambing lokal. Penelitian dilaksanakan pada bulan April - Juni 2021 di Padepokan Menda Kencana Seta, Mrunten Wetan, Kalisidi, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Materi yang digunakan yaitu 15 ekor kambing lokal jantan dengan rata - rata bobot awal seberat 21 ± 3,3 kg, konsentrat, hijauan jagung, multinutrien blok (MnB), pakan komplit bentuk mash, wafer dan pellet. Konsentrat terdiri atas DDGS (destillers dried grains with solubles), pollard, onggok, gaplek, soybean meal (SBM), dedak padi, bungkil kopra, kulit kopi dan molasses. Bahan yang digunakan untuk menyusun MnB meliputi jerami padi fermentasi, tepung daun pepaya, molasses, garam dapur, tepung cangkang kerang, urea, air dan bentonit. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan P1= pakan komplit bentuk mash + 150 g MnB, P2 = pakan komplit bentuk wafer + 150 g MnB, P3 = pakan komplit bentuk pellet + 150 g MnB. Analisis yang digunakan pada parameter uji palatabilitas yaitu analisis secara deskriptif, sedangkan 3 parameter yang lain yaitu konsumsi BK pakan, PBBH dan efisiensi pakan menggunakan analisis ANCOVA (Analysis of Covariance) dan jika hasil signifikan pada taraf 5% (p>0,05) dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian pada uji palatabilitas menunjukkan bahwa pakan bentuk mash memiliki palatabilitas paling tinggi kemudian pakan bentuk pellet dan terakhir pakan bentuk wafer. Perlakuan perbedaan bentuk pakan (mash, wafer dan pellet) berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap konsumsi BK pakan dan PBBH kambing lokal. Konsumsi BK pakan dan PBBH pada perlakuan P1 (mash) nyata (p<0,05) lebih tinggi dibanding perlakuan P2 (wafer) dan P3 (pellet). Konsumsi BK pakan dan PBBH kambing lokal perlakuan P3 (pellet) tidak berbeda nyata dengan perlakuan P2 (wafer). Perlakuan perbedaan bentuk pakan tidak berpengaruh nyata terhadap efisiensi pakan kambing lokal. Simpulan yang diperoleh adalah palatabilitas pakan bentuk mash merupakan yang tertinggi kemudian pakan bentuk pellet dan palatabilitas pakan terendah adalah bentuk wafer. Perlakuan bentuk pakan mash menunjukkan tingkat konsumsi BK pakan, PBBH dan efisiensi pakan kambing lokal yang paling tinggi.} }