@thesis{thesis, author={Nur Kumala Putri}, title ={Penggunaan strategi pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan kompetensi menganalisis unsur intrinsik cerita sejarah siswa Kelas XII SMK WACHID HASYIM Surabaya}, year={2018}, url={http://erepository.uwks.ac.id/1589/}, abstract={ABSTRAK Kumala, Putri Nur. 2018. Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Kompetensi Menganalisis Unsur Intrinsik Cerita Sejarah Siswa Kelas XII SMK Wachid Hasyim Surabaya. Pembimbing: (1) Dr. Sueb Hadi Saputro, M.Pd., (2) Rini Damayanti, S.Pd.,M.Hum. Kata Kunci: Strategi Pembelajaran, Strategi Pembelajaran Inkuiri, Kompetensi, Unsur Intrinsik, Cerita Sejarah Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Dengan penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai standar, tujuan pembelajaran akan bisa dicapai. Dibutuhkan strategi pembelajaran yang tepat agar mampu meningkatkan daya interprestasi siswa dalam pembelajaran menganalisis unsur intrinsik cerita sejarah. Satu diantara strategi pembelajaran yang variatif dan inovatif adalah strategi pembelajaran inkuiri. Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan (1) proses penggunaan strategi pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan kompetensi menganalisis unsur intrinsik cerita sejarah siswa kelas XII SMK Wachid Hasyim Surabaya, (2) hasil penggunaan strategi pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan kompetensi menganalisis unsur intrinsik cerita sejarah siswa kelas XII SMK Wachid Hasyim Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan analisis deskriptif dengan data yang diperoleh berupa hasil belajar siswa kelas XII AK 2 selama tiga siklus. Hasil penelitian ini adalah (1) pada siklus pertama dari 38 siswa, ada 13 siswa atau 34% yang mencapai ketuntasan belajar menganalisis unsur intrinsik dan 25 siswa atau 66% yang tidak mencapai ketuntasan belajar menganalisis unsur intrinsik. (2) pada siklus kedua, meningkat menjadi 19 siswa atau 50% yang mencapai ketuntasan belajar menganalisis unsur intrinsik dan 19 siswa atau 50% yang tidak mencapai ketuntasan belajar menganalisis unsur intrinsik. (3) pada siklus ketiga, meningkat menjadi 32 siswa atau 84% yang mencapai ketuntasan belajar menganalisis unsur intrinsik dan 6 siswa atau 16% yang tidak mencapai ketuntasan belajar menganalisis unsur intrinsik.} }