@thesis{thesis, author={01062071 NUGRAHENI SIWI RUMANTI}, title ={MUSIK DALAM PENDIDIKAN KRISTIANI BAGI PENYANDANG CACAT GANDA NETRA DI RAWINALA}, year={2012}, url={https://katalog.ukdw.ac.id/3521/}, abstract={Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia masih menyuguhkan realita tentang kelahiran orang-orang cacat. Bahkan realita yang memilukan pun terungkap ketika di belahan bumi Indonesia terdapat kelahiran orang-orang cacat yang tidak hanya menyandang satu macam kecacatan, melainkan menyandang kecacatan ganda (lebih dari satu). Sebuah pertanyaan pun menggema, apa yang bisa mereka lakukan dalam hidup ini? Seolah-olah, kehadiran para penyandang cacat ganda itu dianggap tidak dapat melahirkan karya sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang normal fisiknya. Bahkan, mereka seringkali dipandang tidak berguna dan terbuang dari komunitas maupun masyarakat di sekitarnya. Namun, anggapan-anggapan tersebut menjadi runtuh ketika kita menjumpai keberadaan beberapa penyandang cacat ganda netra (Multiple Disabilities Visual Impairment/ MDVI) di Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala, Jakarta Timur. Multiple Disabilities Visual Impairment /MDVI were described as having multiple difficulties, which included severe or profound learning difficulties, and who were functioning at early, or very early, stages of development.1 Rawinala adalah sekolah luar biasa ganda (SLB G) yang awalnya menangani penyandang cacat ganda netra (tunanetra-tunagrahita tingkat ringan), namun seiring jalannya waktu, Rawinala juga menangani penyandang cacat lebih dari dua, yaitu penyandang tunanetratunarungu-tunagrahita (buta-tuli-mental), tunanetra-tunadaksa-tunagrahita (buta-fisik-mental), tunanetra-tunawicara-tunagrahita (buta-bisu-mental), tunadaksa tunarungu-tunawicara, dan tunanetra-tunarungu-tunadaksa-tunawicara.2 Uniknya, sebagai yayasan Kristen, Rawinala mau menerima para penyandang cacat ganda yang beragama non-Kristen, sehingga sekolah ini tidak membeda-bedakan suku, agama maupun ras. Rawinala pun ingin mengembangkan naradidiknya sesuai dengan kemampuan mereka, salah satunya melalui musik. Musik menjadi ciri khas dari kemampuan naradidik cacat ganda netra di Rawinala. Mereka senantiasa dilatih oleh para pengajar musik di Rawinala untuk menyanyikan lagu-lagu rohani Kristen dan bermain instrumen musik seperti keyboard, angklung, balungan (bagian dari gamelan), dan drum. Kemampuan musikal mereka ditampilkan di berbagai acara gerejawi (seperti natal, paskah, ulang tahun gereja, dll), baik itu gereja-gereja di Jakarta maupun di luar Jakarta. Selain itu, naradidik cacat ganda netra diajak untuk bersosialisasi dengan cara menampilkan kemampuan musik mereka dalam beberapa event di tengah masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa musik menjadi sebuah bentuk pendidikan yang menolong mereka untuk mengembangkan diri, sehingga dikenal oleh banyak orang. Namun, penulis berpendapat bahwa pendidikan yang demikian belum cukup untuk menolong naradidik cacat ganda netra dalam mengembangkan diri secara menyeluruh. Dalam penelitian awal pada 21-23 Januari 2011, penulis melihat bahwa pendidikan musik yang diberikan kepada naradidik cacat ganda netra hanya mengarah pada keterampilan musikal supaya mereka bisa menampilkan permainan musik dengan benar dan indah. Praktek musik di Rawinala belum menyentuh ranah spiritual, tetapi hanya sebagai bagian ekstrakulikuler yang diadakan setiap hari Senin-Jumat di Rawinala. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Sigid Widodo (direktur Rawinala) bahwa musik hanya berguna untuk mengasah potensi atau kemampuan (skill) naradidik cacat ganda netra, untuk hal spiritualitas mereka belum diajarkan karena keterbatasan mereka yang sulit mengenal konsep abstrak, bahkan pengajar musiknya sendiri belum tentu mengerti tentang spiritualitas. Selain itu, Mas Asep (pengajar musik di Rawinala) juga mengatakan bahwa arah penggunaan musik adalah pengembangan skill naradidik cacat ganda netra agar mereka dianggap ada dan berharga di tengah masyarakat. Sebenarnya, baik pengurus maupun pengajar musik di Rawinala tidak merasakan adanya permasalahan mengenai musik bagi naradidik cacat ganda netra, justru mereka sangat bangga melihat kemampuan musikal naradidik cacat ganda netra yang belum tentu dimiliki oleh penyandang cacat ganda lainnya. Namun ada sebuah realita yang belum disadari bahwa para pengajar musik di Rawinala menekankan lagu-lagu rohani Kristen dalam pembelajaran musik bagi naradidik cacat ganda netra. Lagu-lagu rohani Kristen itu berhubungan erat dengan hal-hal religius maupun iman kepada Tuhan. Lagu-lagu rohani Kristen tersebut bisa digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan sisi spiritual naradidik cacat ganda netra di Rawinala. Dari sini, sebenarnya musik dapat menjadi titik pijak dalam melengkapi pengembangan diri naradidik cacat ganda netra di Rawinala secara holistik, baik dalam mengenal keberadaan diri, berelasi dengan sesama maupun dekat dengan Tuhan. Berkaitan dengan hal ini, Vivian Sharp Morsch menyatakan bahwa musik mempunyai peran penting dalam pendidikan Kristiani, yaitu menanamkan nilai-nilai spiritual ke dalam hati, pikiran dan kehidupan manusia, sehingga kebenaran-kebenaran spiritual yang terkandung dalam syair dan lagu dapat menjad} }