@thesis{thesis, author={Suandharu Haru}, title ={GOOD GOVERNANCE DALAM PENERAPAN TATA KELOLA SAMPAH DI KOTA BANDUNG}, year={0000}, url={}, abstract={Penelitian dengan judul Good Governance dalam Penerapan Tata Kelola Sampah di Kota Bandung dilatarbelakangi dari semakin besarnya persoalan sampah kota-kota di Indonesia, dan Kota Bandung adalah salah satunya. Saat ini, Kota Bandung memproduksi sekitar 1.500 - 1.700 ton sampah/hari dan 1.340 ton diantaranya masih harus dibuang ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Berbagai perencanaan penanganan telah diupayakan oleh pemerintah Kota Bandung, namun hasilnya belum optimal. Ada beberapa sebab belum optimalnya tata kelola sampah di Kota Bandung, salah satunya diduga belum dijalankan prinsip-prinsip good governance secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan prinsip-prinsip good governance dalam tata kelola sampah di Kota Bandung serta membuat model alternatif tata kelola sampah di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengambilan data dengan menggunakan triangulasi, yaitu observasi, wawancara dengan cara FGD (focus group discussion), wawancara langsung, dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa tata kelola sampah di Kota Bandung belum berjalan dengan optimal disebabkan oleh belum dilaksanakannya prinsip-prinsip good governance. Selain itu, ada persoalan tidak berlanjutnya suatu kebijakan yang disebabkan oleh pergantian kepemimpinan, persoalan kehendak politik pemimpin daerah dan kekurangpahaman pemimpin daerah tentang persoalan lingkungan. Oleh karena itu, persoalan sampah tidak hanya merupakan persoalan kumpul, angkut dan buang saja. Aspek regulasi, kelembagaan, anggaran, teknik operasional dan partisipasi masyarakat sangat penting dalam tata kelola sampah di Kota Bandung. Untuk itu diusulkan sebuah model tatakelola sampah yang berlandaskan pada Good Environmental Governance yang tercermin dari keberpihakan pemimpin daerah kepada lingkungan, sosial, dan ekonomi secara lebih proporsional.} }