@thesis{thesis, author={FIRMANSYAH MAULANA MUGHNI and SUSIANA SUSIANA and WAHYU MUZAMMIL}, title ={BIOMORFOMETRIK RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN SENGGARANG}, year={2022}, url={http://repositori.umrah.ac.id/2435/}, abstract={Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditas penting perikanan Indonesia. Pengetahuan tentang aspek biologi rajungan, termasuk hubungan antar ukuran bagian-bagian tubuhnya (morfometrik) dan pola pertumbuhan berguna sebagai salah satu informasi dalam pengelolaan rajungan. Perairan Senggarang Kota Tanjungpinang yang merupakan wilayah salah satu habitat rajungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lebar karapas dan bobot rajungan (Portunus pelagicus), mengetahui faktor kondisi rajungan (Portunus pelagicus), serta mengetahui morfometrik rajungan (Portunus pelagicus) di perairan Senggarang. Penelitian ini menggunakan metode survey bersifat observasi menggunakan teknik purposive sampling yaitu berdasarkan daerah tangkapan nelayan rajungan. Pengambilan sampel secara acak yang diambil minimal 30 sampel jantan dan betina setiap kali turun pengambilan sampel, pengukuran morfometrik, serta pengukuran parameter fisika dan kimia. Analisis data yang dilakukan yaitu analisis hubungan lebar karapas dan bobot, faktor kondisi, dan karakter morfometrik hingga aspek pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan jumlah rajungan jantan sebanyak 79 ekor dan rajungan betina sebanyak 56 ekor, sehingga diperoleh nisbah kelamin adalah 1,41 : 1. Hubungan lebar karapas dan bobot rajungan (Portunus pelagicus) jantan diperoleh nilai b sebesar 3,3485 termasuk allometrik positif, sedangkan betina diperoleh nilai b sebesar 2,7142 termasuk allometrik negatif yang menunjukkan bahwa rajungan jantan lebih besar dibandingkan betina. Faktor kondisi rajungan (Portunus pelagicus) jantan dan betina di perairan Senggarang memiliki badan yang kurang pipih atau montok. Status pertumbuhan morfometrik rajungan (Portunus pelagicus) jantan dan betina bersifat allometrik positif sebanyak 14 karakter. Allometrik positif merupakan status hubungan yang menunjukkan bahwa pertambahan karakter lebih lambat dibandingkan pertambahan karakter morfometrik pembandingnya. Allometrik negatif sebanyak 10 karakter. Allometrik negatif merupakan status hubungan yang menunjukkan bahwa pertambahan karakter lebih cepat dibandingkan pertambahan karakter morfometrik pembandingnya. Isometrik 1 karakter. Isometrik merupakan status hubungan yang menunjukkan bahwa pertambahan karakter sebanding dengan pertambahan karakter morfometrik pembandingnya. Status hubungan karakter jantan memiliki hubungan sangat rendah (A4, A5, C3), sedang (B2, C2, C4, D3, D5), kuat (A2, A3, A6, B3, B4, C1, C5, C6, C7, C8, D1, D2, D4, D6, D7), sangat kuat (A1, B1). Karakter betina memiliki hubungan sangat rendah (D5), rendah (A5, B3, C2, D3), sedang (A4, A6, B4, C3, C6, C7, D1, D6, D7), kuat (C1, C4, C5, C8, D2, D4), sangat kuat (A1, A2, A3, B1, B2)} }