@thesis{thesis, author={Arieta Siti and Shelly Rahmadani Putri and Syafitri Rahma}, title ={PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP ALUMNI PESANTREN AR-RAUDHAH DALAM BERPAKAIAN DI TANJUNG BALAI KARIMUN}, year={2024}, url={http://repositori.umrah.ac.id/7044/}, abstract={Fenomena eksistensi alumni pesantren yang memilih untuk tidak menutup aurat dalam berpakaian telah memunculkan pandangan yang kurang sesuai dari masyarakat Tanjung Balai Karimun terhadap mereka sebagai alumni pesantren. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa perilaku tersebut tidak konsisten dengan identitas mereka sebagai alumni pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses konstruksi identitas alumni pesantren di Tanjung Balai Karimun dalam pemilihan dan penggunaan pakaian. Dengan pendekatan sosiologis dan fenomenologis, data primer dan sekunder akan diperoleh melalui observasi, wawancara, serta telah kitab, buku, dokumen, artikel, dan penelitian sebelumnya. Masyarakat memberikan makna dan interpretasi pada gaya berpakaian sebagai simbol agama dan pengabdian pada nilai-nilai Islam. Meskipun variasi pemilihan pakaian terdapat di antara alumni pesantren, gaya berpakaian menjadi eksternalisasi identitas keagamaan mereka kepada masyarakat. Namun, perubahan gaya berpakaian ini memicu kontroversi sebagai bentuk penyimpangan dari nilai-nilai agama. Masyarakat cenderung melihat perubahan ini sebagai negatif, dengan harapan tinggi terhadap alumni pesantren sebagai pengetahuan agama yang mendalam. Namun, tidak semua alumni memiliki pengetahuan agama yang seragam, dan tujuan mereka juga beragam. Penelitian ini menggunakan Teori Konstruksi Sosial dari Peter L Berger dan Thomas Luckman yang berlangsung tiga tahap yaitu Ekternalisasi, Objektifikasi dan Internalisasi. Hasil penelitian ini yaitu adanya proses penyesuaian diri alumni pesantren dengan budaya dan lingkungan sekitar. Adanya pemahaman masyarakat terhadap alumni pesantren untuk menutup aurat sebagai kewajiban serta bagian dari identitas Muslimah. Meskinpun demikian, pandangan masyarakat terhadap pakaian alumni pesantren masih beragam, tergantung pada sudut pandang dan nilai yang di pegang oleh masyarakat tersebut.} }