@thesis{thesis, author={Faturrahman Dio}, title ={ETNOGRAFI KEPENONTONAN MENGENAI MAKNA MASKULINITAS DALAM IKLAN POND’S MEN VERSI WAJAH BERMINYAK DAN KAITANNYA DENGAN BRAND PERSONALITY}, year={2021}, url={http://repository.bakrie.ac.id/5418/}, abstract={Perkembangan industri kosmetik kini semakin menjanjikan. Pemasar menyadari bahwa salah satu potensi terbesarnya adalah memproduksi kosmetik untuk laki-laki, salah satunya seperti produsen kosmetik terbesar di Indonesia yaitu Pond?s Unilever yang meluncurkan varian untuk laki-laki yang bernama Pond?s Men di tahun 2013. Untuk mempromosikan produknya, Pond?s Men telah menampilkan banyak iklan, salah satunya adalah iklan untuk varian produk Lightning Oil Clear. Ciri khas Pond?s Men yang selalu menghadirkan apa yang disebut ?Pria Masa Kini?, yaitu laki-laki maskulin yang dapat dilihat dari penampilan fisik serta kegiatan sehari-harinya, kini disajikan dengan pendekatan yang unik berharap penonton dapat mengidentifikasi dirinya dengan iklan tersebut. Namun secara tidak sadar, Pond?s Men telah mereproduksi makna maskulinitas tradisional, yang merupakan definisi buku teks dari bagaimana seharusnya laki-laki bersikap dan berperilaku sesuai dengan aturan yang patriarkis, sehingga spektrum laki-laki yang tidak mengikuti aturan tersebut akan mengalami diskriminasi dari lingkungan sekitar. Mengadopsi metode Etnografi Kepenontonan dari Wijaya (2015), penelitian ini menyelidiki makna maskulinitas bagi penonton iklan Pond?s Men Lightning Oil Clear, makna triad psikoanalisis the real, imaginary & symbolic konsumen terkait iklan Pond?s Men Lightning Oil Clear, dan memahami refleksi pengalaman pribadi konsumen terkait tontonan iklan tersebut. Juga, menginterogasi makna brand personality di mata konsumen melalui konsumsi iklan Pond's Men versi 'Wajah Berminyak'. Temuan menunjukan bahwa konstruksi sosial maskulinitas dan media telah berkongsi untuk merepresi konsumen dengan standar-standar mengenai maskulinitas yang harus diikuti untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam kehidupannya. Padahal, konsumen dapat memilih untuk mengikuti standar tersebut atau mendefinisikan dirinya sebagai laki-laki yang sepenuhnya merdeka dari stereotip dan standar-standar sosial/media.} }