@thesis{thesis, author={WEKI Antonius}, title ={Makna Ritus Ra Lima Wake Laki Pu’u pada Masyarakat Adat Lio-Wolotolo dalam Perbandingan dengan Makna Sakramen Tahbisan Imam dalam Gereja Katolik dan Relevansinya bagi Pelayan Pastoral Gereja}, year={2024}, url={http://repository.iftkledalero.ac.id/2433/}, abstract={Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan dan menjelaskan situasi masyarakat Wolotolo di Ende dan sejauh mana masyarakat adat Wolotolo melaksanakan dan menghayati serta mempertahankan ritus ra lima wake laki pu?u dalam kehidupan sehari-hari, (2) melukiskan dan membandingkan makna ritus ra lima wake laki pu?u pada masyarakat adat Wolotolo dengan upacara pengurapan sakramen tahbisan imam dalam Gereja Katolik, (3) menunjukkan relevansi makna dalam kedua ritus tersebut bagi pelayan pastoral Gereja. Subjek dari penelitian ini adalah para mosalaki di wilayah adat Wolotolo yang tersebar di Desa Wolotolo, Desa Wolotolo Tengah dan Desa Randoria, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, NTT. Selain itu, penulis juga mewawancarai beberapa orangtua dan guru-guru senior serta beberapa tokoh adat dan tokoh masyarakat di luar kampung adat Wolotolo sebagai perbandingan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif berupa penelitian lapangan dengan instrumen pengumpulan datanya adalah wawancara dan observasi partisipatoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua ritus itu memiliki beberapa unsur, makna dan nilai yang saling mendukung dan menguatkan dalam persamaannya. Nilai-nilai tersebut di antaranya pandangan tentang ?Yang Transenden? sebagai pemberi kehidupan, sebagai bentuk penyucian dan pembersihan diri, suatu pelayanan bagi orang lain, dinobatkan sebagai pemimpin, dikukuhkan menjadi manusia kultus dan struktur perayaan menjiwai pelaksanaan kedua ritus itu. Sedangkan perbedaan dari kedua ritus ini yakni tempat dan waktu pelaksanaan upacara, pihak-pihak yang terlibat, sarana dan tanda yang digunakan, peran Roh Kudus dan arwah leluhur, pemimpin upacara dalam perayaan dan jenis kurban yang digunakan dalam perayaan itu. Perbedaan-perbadaan ini dipandang sebagai kekayaan dan kekhasan dari masing-masing ritus namun lebih dari itu, ia mesti dipandang sebagai unsur yang memiliki makna yang amat penting dalam keseluruhan perayaan yang dalam keyakinan masyarakat penganutnya dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Beberapa unsur yang diperbandingkan dalam ritus ra lima wake laki pu?u dan upacara tahbisan imam melahirkan beberapa nilai yang sangat relevan bagi karya misi para pelayan pastoral Gereja. Nilai-nilai tersebut yakni pemimpin sebagai pelayan, kekudusan, bertanggung jawab dan bekerja sama. Jika beberapa nilai ini benar-benar dihayati oleh para pelayan pastoral maka niscaya karya pelayanan Gereja akan semakin berkembang dan semakin banyak orang yang diselamatkan.} }