@thesis{thesis, author={MADUR Libertus}, title ={Hubungan Makna Religius Compang pada Kebudayaan Masyarakat Manggarai dengan Altar dalam Gereja Katolik dan Implikasinya bagi Pendalaman Iman Umat Gereja Lokal Keuskupan Ruteng}, year={2024}, url={http://repository.iftkledalero.ac.id/2456/}, abstract={Tujuan utama dari penelitian ini adalah menggali hubungan makna religius Compang pada kebudayaan masyarakat Manggarai dengan Altar dalam Gereja Katolik dan implikasinya bagi pendalaman iman umat Gereja lokal Keuskupan Ruteng. Tujuan utama tersebut dicapai melalui beberapa langkah kerja. Pertama, menjelaskan tentang gambaran umum Manggarai. Kedua, menggali makna religius Compang dalam kebudayaan masyarakat Manggarai. Ketiga, menggali makna Altar dalam Gereja Katolik. Keempat, menemukan hubungan antara Compang dan Altar dan implikasinya bagi pendalaman iman umat Gereja lokal Keuskupan Ruteng. Metode yang digunakan dalam riset ini ialah kajian kepustakaan dan penelitian lapangan. Dalam kajian kepustakaan, penulis membaca berbagai literatur seperti Alkitab, ensiklopedi, kamus, dokumen-dokumen Gereja, buku, artikel-jurnal, manuskrip serta data-data yang relevan dengan tema penelitian ini melalui jasa internet. Sementara dalam penelitian lapangan, penulis mewawancarai beberapa narasumber yang memiliki pengetahuan yang baik tentang kebudayaan Manggarai. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa Compang dan Altar memiliki hubungan makna dalam menyajikan nilai-nilai spiritual bagi kehidupan manusia. Ada empat hubungan makna religius Compang dan Altar, antara lain; 1) Compang dan Altar sebagai gambaran kehadiran Allah, 2) Compang dan Altar sebagai ungkapan kedekatan manusia dengan Wujud Tertinggi, 3) Compang dan Altar sebagai gambaran persatuan manusia dengan Allah, dan 4) Compang dan Altar sebagai tempat menimba kekuatan dan sumber kekayaan rohani. Hubungan antara Compang dan Altar yang ditemukan dalam penelitian ini dapat menjadi sebuah pendasaran dalam mengembangkan sebuah teologi seturut konteks kebudayaan setempat, khususnya bagi Gereja lokal Keuskupan Ruteng dalam upaya pendalaman iman umat di Manggarai. Oleh karena itu, penulis menawarkan sebuah model berpastoral yang berbasiskan pada akar kebudayaan masyarakat setempat melalui dialog iman dan kebudayaan. Dialog iman dan kebudayaan ini menjadi penting karena iman (agama) dan kebudayaan merupakan dua hal yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan dalam membentuk manusia yang berkepribadian luhur. Selanjutnya, nilai-nilai luhur dalam kebudayaan yang telah diselaraskan dengan pandangan teologi tersebut harus kembali diperkenalkan kepada masyarakat setempat demi pengembangan iman umat beriman dengan mengadakan katekese.} }