@thesis{thesis, author={NUWA Yosep Jawa}, title ={Makna Ritus Kematian Masyarakat Wolopogo-Boawae-Flores dalam Perbandingan dengan Ajaran Gereja Katolik Tentang Kematian dan Hidup Sesudah Kematian serta Relevansinya Bagi Karya Pastoral Gereja.}, year={2024}, url={http://repository.iftkledalero.ac.id/2480/}, abstract={Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengenal Masyarakat Wolopogo dan kebudayaannya serta mengetahui dan mengenal tahapan-tahapan ritus kematian yang ada di dalam kebudayaan masyarakat Wolopogo; (2) Memahami ajaran Gereja Katolik mengenai kematian dan hidup sesudah kematian; (3) Menemukan makna dibalik ritus-ritus kematian masyarakat Wolopogo dalam perbandingan dengan ajaran Gereja Katolik tentang kematian dan hidup sesudah kematian; (4) Menemukan relevansi atas pemaknaan kembali ritus-ritus kematian masyarakat Wolopogo dalam terang ajaran Gereja Katolik tentang kematian dan hidup sesudah kematian, bagi karya pastoral Gereja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan dan analisis kepustakaan. Dalam penelitian lapangan, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif berupa observasi partisipatoris dan wawancara. Melalui analisis kepustakaan, peneliti mendalami materi-materi yang mengulas seputar tema kematian dan hidup sesudah kematian menurut ajaran Gereja Katolik dan sumber-sumber yang berbicara tentang kebudayaan dan ritus, terutama kebudayaan dan ritus masyarakat Wolopogo-Boawae-Flores. Hasil yang dicapai dalam penggalian makna ritus kematian masyarakat Wolopogo dalam perbandingan dengan ajaran Gereja Katolik tentang kematian dan hidup sesudah kematian adalah ditemukannya keyakinan-keyakinan yang dapat diselaraskan antara keduanya yakni; keyakinan akan adanya Wujud Tertinggi, harapan akan hidup setelah kematian, adanya relasi antara orang hidup dan orang mati, aspek inisiasi serta penghargaan terhadap tubuh manusia. Selain itu, ditemukan juga keyakinan-keyakinan yang berbeda yakni; pandangan tentang kematian, pemahaman akan kebangkitan jiwa dan badan, status pengantara, tempat bagi orang yang sudah meninggal, serta ketakutan terhadap roh orang mati. Persamaan dan perbedaan pandangan tentang kematian dan hidup sesudah kematian yang ditemukan, dipakai sebagai sarana dalam membantu masyarakat Wolopogo yang juga adalah anggota Gereja, untuk mendalami iman mereka tentang kematian dan hidup sesudah kematian, seturut apa yang digariskan di dalam ajaran Gereja Katolik. Keselamatan menjadi tujuan sentral, baik dalam ritus-ritus kematian masyarakat Wolopogo maupun dalam ajaran Gereja Katolik. Oleh karena itu, ix Gereja tetap menunjukkan sikap respek terhadap tradisi masyarakat Wolopogo sembari menarik benang merah yang menghubungkan ritus-ritus tersebut dengan ajaran Gereja Katolik. Usaha ini dilakukan agar masyarakat Wolopogo dapat mencapai penghayatan dan pengamalan iman Katolik yang lebih mendalam. Karya pastoral Gereja menjadi jalan masuk untuk tercapainya tujuan ini. Melalui pastoral katekese yang bernuansa dialog antara iman dan kebudayaan, serta pastoral liturgis yang terarah pada kemungkinan inkulturasi, dapat membawa umat pada pengahayatan iman dengan nilai-nilai Kristiani yang benar, yang bersumber dari Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium Gereja.} }