@thesis{thesis, author={Rudianto Budi}, title ={Model Konfigurasi Atap Untuk Pembangkitan Energi Dengan Sistem Panel Surya Terintegrasi Pada Permukiman Kampung Di Kota Surabaya}, year={2022}, url={http://repository.its.ac.id/94844/}, abstract={Fenomena semakin luasnya kawasan permukiman perkotaan dan rapatnya jarak antar bangunan menyediakan permukaan atap luas terkonsentrasi yang bisa menjadi lokasi pemanen energi matahari. Menerapkan sistem panel surya terintegrasi pada kampung dengan konfigurasi beragam mempunyai permasalahan perolehan akses sinar matahari optimal. Namun hal tersebut memberi peluang untuk ekplorasi pembangkitan energi maksimal karena rentang lebar dari posisi matahari di wilayah ekuator. Belum ada peneliti lain yang melakukannya di wilayah ekuator. Tujuan penelitian adalah mendapatkan model konfigurasi atap dengan akses sinar matahari optimal untuk pembangkitan energi dengan sistem panel surya terintegrasi pada permukiman kampung di Kota Surabaya. Metodologi penelitian merupakan gabungan dari analisis tipo-morfologi, simulasi, dan optimasi. Kondisi tipikal dari atap permukiman dan blok permukiman menjadi dasar dalam membuat model. Simulasi menggunakan program PVsyst untuk menghitung pembangkitan energi listrik pada model konfigurasi atap. Optimasi menggunakan pendekatan desain untuk mendapatkan pembangkitan energi listrik maksimal. Subyek penelitiannya adalah atap permukiman dan blok permukiman kampung di Kota Surabaya. Obyek penelitiannya meliputi orientasi, jenis atap, sudut kemiringan atap, tinggi bangunan, bentuk blok, dan kepadatan bangunan. Kondisi tipikal dari atap permukiman dan blok permukiman terutama dibentuk oleh variasi orientasi. Karakter akses sinar matahari di Kota Surabaya dipengaruhi oleh lokasi kota yang berada pada 7,25° LS, yang sedikit condong ke Selatan. Model konfigurasi atap dengan akses sinar matahari optimal mempunyai persyaratan yaitu jumlah variasi orientasi yang banyak terutama diagonal untuk mengikuti pergerakan posisi matahari secara bersama bergantian, kombinasi variasi sudut kemiringan atap yang relatif landai (20°-25°) untuk mendapatkan dua sisi bidang atap berlawanan ter-papar bersamaan, dan perbedaan tinggi bangunan kurang dari 1 meter untuk meminimalkan halangan dari bangunan bersebelahan yang menyebabkan pembayangan. ======================================================================================================= The phenomenon of the getting wider of urban settlement area and the closer distance between buildings provide a large concentration of roof surface that can be a location for solar energy harvester. Implementing an integrated solar panel system in a kampung situation with various configurations has a problem getting optimal solar access. However, this provides an opportunity to explore maximum energy generation due to the wide range of the movement of the sun’s position in the equatorial region. No other researchers have conducted it at the equator. The research aims to obtain a roof configuration model with optimal solar access for energy generation with an integrated solar panel system on kampung in Surabaya. The research methodology is typo-morphological analysis, simulation, and optimization. Typical conditions of the roof and block settlement are the basis for modeling. The simulation with the PVsyst program to calculate the generation of electrical energy on the roof configuration model. A design approach to optimize maximum electrical energy generation. The research subjects are roof settlement and block settlement in Surabaya. The research objects include orientation, roof type, roof-slope angle, building height, block shape, and building density. Typical conditions of roof settlement and block settlement block are shaped mainly by orientation variation. The character of solar access in Surabaya is affected by the city’s location at 7,25° S, which is slightly leaning to the South. The roof configuration model with optimal solar access has the following requirements: namely, a large number of orientation variations, especially diagonals to follow the movement of the sun's position simultaneously alternately, a combination of roof variations in low-angle (20°-25°) to get two opposite of roof sides exposed together, and the difference in building height is less than 1 meter to minimize obstructions from adjoining buildings that cause shadowing} }