A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Undefined offset: 1
Filename: controllers/Document.php
Line Number: 69
Backtrace:
File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler
File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Undefined offset: 1
Filename: controllers/Document.php
Line Number: 69
Backtrace:
File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler
File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Undefined offset: 1
Filename: controllers/Document.php
Line Number: 69
Backtrace:
File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler
File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once
@thesis{thesis,
author={. and Anastasia Yuni and Flaviana Sri Digna },
title ={Penggambaran kearifan lokal(Analisis semiotika pada acara Televisi “Jejak Petualang†episode Larantuka, Naungan adat dan religi)},
year={2020},
url={http://repository.ukwms.ac.id/id/eprint/23029/},
abstract={Penelitian ini mengugkapkan bagaimana pengambaran kearifan lokal pada acara televisi Jejak Petualang episode Larantuka naungan adat dan religi. Peneliti mengunakan metode analisis semiotika Charles sander Peirce untuk melihat bagaimana penggambaran kearifan lokal pada media dalam perpektif postkolonial. Dengan menggunkan metode semiotika Charles sander Peirce, peneliti berfokus pada ikon, indeks, dan simbol yang dapat memunculkan intepretan.
Pada penelitian ini peneliti menemukan empat pembahasan penting dalam penggambaran kearifan lokal yakni: mengenai penggambaran kearifan lokal dalam agama dan kepercayaan masyarakat Larantuka, penggambaran kearifan lokal dalam mata pencarian masyarakat Larantuka, penggambaran kearifan lokal dalam makan khas Larantuka dan penggambaran kearifan lokal pada kain tenun Larantuka. Dari empat pembahsan tersebut dapat digambarkan bahwa penggambaran kearifan lokal pada Larantuka sangat berkaitan erat dengan bangsa kolonial (bangsa Portugis). Dimana tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Larantuka merupakan warisan dari bangsa Portugis. Namun disisi lain masyarakat Larantuka walaupun menjalankan tradisi yang diwariskan bangsa Portugis tetapi mereka masih mempercayakan agama lokal yang mereka peroleh dari nenek moyang mereka. Agar keduanya tidak saling bertentangan, masyarakat Larantuka menyatukan keduanya dalam ajaran agama katolik. Masyarakat Larantuka masih juga tetap mempertahankan kearifan lokal lainya, walaupun dengan perkembangan era globalisasi yang begitu pesat.}
}