A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: controllers/Document.php

Line Number: 69

Backtrace:

File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler

File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: controllers/Document.php

Line Number: 69

Backtrace:

File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler

File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: controllers/Document.php

Line Number: 69

Backtrace:

File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler

File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once

@thesis{thesis, author={Agatha Winda and Finsensius Yuli and Shania }, title ={Human trafficking di India (Representasi anak perempuan penyintas human trafficking di India dalam film Love Sonia)}, year={2021}, url={http://repository.ukwms.ac.id/id/eprint/24245/}, abstract={Penelitian ini memiliki judul representasi anak perempuan penyintas human trafficking di India dalam film Love Sonia. Film Love Sonia berusaha mengungkapkan bagaimana penggambaran anak perempuan yang akan ditampilkan dalam film ini. Perempuan dalam film ini digambarkan sebagai seorang yang tersubordinasi oleh kaum laki-laki, lalu perempuan juga di jadikan sasaran kejahatan kriminial. Tidak hanya itu dalam film tersebut perempuan juga menjadi suatu komoditas bagi kaum laki-laki. Namun disamping itu terdapat gambaran bahwa perempuan juga dapat menjadi seorang pahlawan. Menggunakan pendekatan kualitatif, metode semiotika milik Charles Sanders Pierce dengan berusaha menganalisis bagaimana representasi anak perempuan berdasarkan ikon, indeks, dan simbol. Peneliti menemukan bahwa adanya perlakuan diskriminatif terhadap perempuan hingga eksploitasi seksual kerap terjadi karena hal ini dianggap sebagai hak aristokrasi. Serta masih adanya berbagai praktik sejarah kuno yang melegalkan perbudakan.} }