A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Undefined offset: 1
Filename: controllers/Document.php
Line Number: 69
Backtrace:
File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler
File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Undefined offset: 1
Filename: controllers/Document.php
Line Number: 69
Backtrace:
File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler
File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Undefined offset: 1
Filename: controllers/Document.php
Line Number: 69
Backtrace:
File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler
File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once
@thesis{thesis,
author={Akhsaniyah and Nanang and Priscilia },
title ={Penerimaan penonton laki-laki terhadap standar kecantikan perempuan dalam film Imperfect},
year={2021},
url={http://repository.ukwms.ac.id/id/eprint/24298/},
abstract={Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana penerimaan penonton laki-laki terhadap standar kecantikan perempuan yang disampaikan dalam film Imperfect. Saat standar kecantikan yang sudah terkonstruksi oleh media bahwa perempuan cantik adalah perempuan yang kurus, putih, berambut panjang dan lurus, dalam film ini memberikan perspektif baru bahwa semua perempuan itu cantik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis deskriptif. Dengan menggunakan metode reception analysis dari perspektif encoding-decoding milik Stuart Hall, peneliti membagi informan menjadi beberapa posisi, yakni dominant (hegemonic) positions, negotiated positions, dan oppositional positions. Hal yang membuat informan memaknai makna pesan itu berbeda karena frame of reference dan field of experience yang dimiliki berbeda. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah informan cenderung berada pada oppositional positions dalam memaknai pesan yang melawan standar kecantikan universal, serta informan cenderung berada pada pada negotiated positions dalam memaknai pesan adanya preokupasi obsesif terhadap fisik perempuan, kontrol pemenuhan mitos kecantikan, dan keragaman konsep kencantikan. Terlihat dalam penelitian ini ada sikap paradoksal para informan, dimana dalam memaknai pesan tersebut, mereka berada pada posisi hegemoni, namun dalam kehidupan sehari-hari mereka masih menggunakan standar kecantikan ideal.}
}