@thesis{thesis, author={Putri Ramadin Realita Empaty}, title ={HUBUNGAN STIGMA PRALANSIA DENGAN ODHIV BERDASARKAN TEORI HEALTH BELIEF MODEL DI PUSKESMAS KASSI KASSI KOTA MAKASSAR TAHUN 2025}, year={2025}, url={http://repository.umi.ac.id/7623/}, abstract={Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) tetap menjadi tantangan kesehatan global yang berkelanjutan dan memengaruhi jutaan jiwa. Penyakit ini tidak hanya menjadi masalah kesehatan, namun juga terkait dengan masalah agama, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. HIV/AIDS telah menjadi masalah kesehatan yang sangat penting karena virus-virus tersebut dapat menular kepada orang lain melalui berbagai cara penularan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian Cross sectional yang digunakan untuk mengetahui hubungan dimensi HBM (Health Belief Model) dengan stigma pralansia terhadap ODHA. Populasi dalam penelitian ini adalah pralansia (49-59 Tahun) yang datang berobat di Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar sejumlah 4218 jiwa. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Non-Probability Sampling dengan pendekatan Purposive Sampling dan setelah melakukan perhitungan sampel menggunakan rumus lemeshow didapatkan hasil 75 responden dengan minimal Pendidikan Diploma atau Sarjana. Metode pengumpulan data diperoleh dengan obeservasi dan kuesioner yang bersifat tertutup menggunakan skala likert. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa tingkat pengetahuan dengan stigma pralansia terhadap ODHA menunjukkan responden yang memiliki pengetahuan baik cenderung ber-stigma positif, yaitu sebanyak 29 responden (85,3%) dan setelah dilakukan uji chi-square diperoleh hasil p- value 0,062, artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan stigma. Selain itu, diketahui bahwa Perceived Susceptibility (Kerentanan) dengan Stigma Pralansia terhadap ODHA menunjukkan responden yang memiliki persepsi kerentanan baik cenderung ber-stigma positif, yaitu sebanyak 48 responden (78,7%) dan setelah dilakukan uji chi-square diperoleh hasil p-value 0,029, artinya ada hubungan antara persepsi kerentanan dengan stigma. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa persepsi keseriusan dengan stigma pralansia terhadap ODHA menunjukkan, responden yang memiliki persepsi keseriusan baik cenderung ber-stigma positif, yaitu ix sebanyak 44 responden (74,6%) dan setelah dilakukan uji chi-square diperoleh p-value 0,640 artinya tidak ada hubungan antara persepsi keseriusan dengan stigma. Tak hanya itu, diketahui bahwa persepsi keuntungan dengan stigma pralansia terhadap ODHA menunjukkan responden yang memiliki persepsi keuntungan baik cenderung ber-stigma positif, yaitu sebanyak 49 responden (75,4%) dan setelah dilakukan uji chi- square diperoleh hasil p-value 0,306 artinya tidak ada hubungan antara persepsi keuntungan dengan stigma. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa persepsi hambatan dengan stigma pralansia terhadap ODHA menunjukkan responden yang memiliki persepsi hambatan baik cenderung ber-stigma positif, yaitu sebanyak 48 responden (77,4%) dan setelah dilakukan uji chi-square diperoleh hasil p-value 0,081 artinya tidak ada hubungan antara persepsi hambatan dengan stigma. Berikutnya, persepsi kepercayaan diri dengan stigma pralansia terhadap ODHA menunjukkan responden yang memiliki persepsi kepercayaan diri baik cenderung ber-stigma positif, yaitu sebanyak 51 responden (78,5%) dan setelah dilakukan uji chi-square diperoleh hasil p-value 0,010 artinya ada hubungan antara persepsi kepercayaan diri dengan stigma. Puskesmas disarankan menyusun program edukasi terpadu bagi kelompok pralansia dengan pendekatan Health Belief Model (HBM), yang mencakup pemahaman risiko, bahaya HIV, manfaat pencegahan, dan hambatan sosial-informasi guna menurunkan stigma terhadap ODHIV. Pralansia juga didorong lebih terbuka terhadap informasi kesehatan serta aktif mengikuti posyandu lansia atau forum warga sebagai kanal edukasi. Sementara itu, peneliti selanjutnya diharapkan memperdalam penerapan HBM dalam konteks stigma HIV/AIDS, khususnya dengan mengeksplorasi lebih luas hubungan antar variabel psikososial di berbagai kelompok rentan untuk memperkaya kajian dalam ilmu kesehatan masyarakat. Penelitian ini memiliki relevansi kuat dengan epidemiologi sosial dan perilaku, karena stigma merupakan determinan sosial yang memengaruhi penyebaran HIV, akses layanan, hingga kepatuhan terapi. Melalui pendekatan Health Belief Model (HBM), penelitian ini menjelaskan bagaimana persepsi pralansia—terhadap kerentanan, keseriusan, manfaat, dan hambatan—berkontribusi pada pembentukan stigma terhadap ODHIV. Pemahaman ini penting untuk mendukung upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan HIV/AIDS secara lebih efektif.} }