@thesis{thesis, author={Irmayanti Irmayanti}, title ={FAKTOR DETERMINAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA UMUR 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MONCONGLOE DESA MONCONGLOE LAPPARA KECAMATAN MONCONGLOE KABUPATEN MAROS TAHUN 2025}, year={2026}, url={http://repository.umi.ac.id/7809/}, abstract={Stunting atau pendek merupakan status gizi yang didasarkan pada indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dengan z-score kurang dari -2 SD (Standar Deviasi). Stunting buka hanya masalah gangguan pertumbuhan fisik saja, namun juga mengakibatkan anak menjadi mudah sakit. Selain itu juga terjadi gangguan perkembangan otak dan kecerdasan. Sehingga stunting merupakan ancaman besar terhadap kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Moncongloe Desa Lappara Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif menggunakan studi cross sectional. Cross Sectional (potong silang) adalah desain penelitian yang menekankan pada saat pengukuran atau observasi data baik variabel independen (faktor risiko) dan dependen (efek) yang dilakukan hanya satu kali pada satu waktu. Hasil penelitian ini diperoleh analisis univariate dengan persentase jumlah balita laki-laki sebesar 46,3%, jumlah balita perempuan 53,7%. Persentase jumlah balita stunting sebesar 27,6% dan balita tidak stunting 72,4%, status pendidikan ibu kategori tinggi 92,7% dan rendah 7,3%. Panjang badan lahir kategori normal 95,1% dan kurang 4,9%, berat badan lahir yang berisiko rendah BBLR 94,3% dan berisiko tinggi BBLR 94,3%, riwayat pemberian ASI ekslusif kategori berisiko 36,6% dan tidak berisiko 63,4%. Riwayat penyakit infeksi yang tidak menderita sebesar 41,5% dan menderita 35,1% serta jenis penyakit yang paling sering adalah ISPA. Adapun analisis bivariat Status pendidikan ibu, Panjang badan lahir, BBLR, tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting dimana ρ=0,242, ρ=0,538, ρ=0,416 artinya ρ>0,05. Sedangkan Riwayat pemberian ASI ekslusif dan Riwayat penyakit infeksi terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting dimana ρ=0,020 dan ρ=0,004 artinya ρ<0,05. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status Pendidikan ibu, Panjang badan lahir dan BBLR dengan kejadian stunting, maka Ha ditolak. Serta terdapat hubungan yang xvii bermakna antara riwayat ASI ekslusif dan Riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting, maka Ha diterima. Diharapkan pada penelitian selanjutnya, dapat mengkaji lebih mendalam lagi faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Moncongloe Desa Lappara.} }