@thesis{thesis, author={AZZAHRA FATIMAH}, title ={GAMBARAN KEBERHASILAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA DALAM PENURUNAN TINGKAT KELAHIRAN DI DESA PEKALOBEAN KABUPATEN ENREKANG}, year={2026}, url={http://repository.umi.ac.id/7818/}, abstract={Program Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya strategis pemerintah dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui penyediaan alat kontrasepsi dan informasi yang memadai bagi pasangan usia subur. Keberhasilan program ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu ketersediaan alat kontrasepsi yang mudah diakses dan sesuai kebutuhan, peran aktif petugas kesehatan dalam memberikan edukasi dan pelayanan, serta dukungan keluarga terutama dari suami dan anggota keluarga dekat. Selain itu, sumber informasi yang akurat dan mudah diperoleh juga berperan penting dalam meningkatkan kesadaran dan motivasi pasangan untuk menggunakan alat kontrasepsi secara konsisten. Teori PRECEDE yang dikemukakan oleh Lawrence Green menegaskan pentingnya faktor-faktor predisposisi seperti pengetahuan dan sikap yang dibentuk oleh intervensi kesehatan untuk mencapai perubahan perilaku. Oleh karena itu, sinergi antara ketersediaan fasilitas, peran petugas kesehatan, dukungan keluarga, dan informasi yang tepat sangat menentukan keberhasilan program KB dalam menurunkan angka kelahiran. Tingginya angka kelahiran masih menjadi tantangan di beberapa wilayah, termasuk Desa Pekalobean Kabupaten Enrekang. Namun data jumlah kelahiran di Desa Pekalobean 3 tahun terakhir ini mengalami penurunan, dan hasil observasi awal menunjukkan bahwa sudah banyaknya pengguna KB aktif di desa ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran keberhasilan program keluarga berencana dalam penurunan tingkat kelahiran di Desa Pekalobean Kab. Enrekang. Jenis penelitian ini ialah penelitain kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Sampel pada penelitian ini ialah Pasangan Usia subur di Desa Pekalobean yang ditentukan menggunakan rumus Slovin yaitu sebanyak 148 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan siolah secara statistik deskriptif. Variabel mengacu pada model PRECEDE Lawrence Green, melihat faktor predisposisi, faktor pemungkin, dan faktor penguat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan, pada variabel sumber informasi diketahui bahwa mayoritas responden memperoleh informasi yang cukup sebanyak 143 responden (96,6%) megalami penurunan kelahiran dan hanya 2 responden (1,4%) yang naik, sedangkan kategori xxiv kurang cukup merasa kelahiran turun dan hanya 1 (0,6%) merasa kelahiran naik. Pada variabel ketersediaan alat kontrasepsi, mayoritas responden yang menyatakan ketersediaan cukup sebanyak 143 responden (96,6%) mengalami penurunan tingkat kelahiran dan hanya 3 responden (2,0%) yang mengalami kenaikan, sedangkan 2 responden (1,4%) yang menyatakan ketersediaan kurang cukup seluruhnya mengalami penurunan. Pada variabel peran petugas kesehatan, mayoritas responden yang menilai peran petugas kesehatan baik sebanyak 143 responden (96,6%) mengaralami penurunan dan ada 3 responden (2,0%) mengalami kenaikan, selebihnya responden yang menilai kurang baik tetap mengalami penurunan. Pada variabel dukungan keluarga, mayoritas responden mendapatkan dukungan sebanyak 143 responden (96,6%) merasa tingkat kelahiran turun sedengkan kategori kurang mendukung 2 responden merasa turun dan 2 lainnya merasa naik. Hal ini menunjukkan pentingnya informasi memadai, ketersediaan alat kontrasepsi, peran aktif petugas kesehatan, dan dukungan keluarga dalam keberhasilan program KB. Dari temuan tersebut disimpulkan bahwa sebanyak (96,6%) yang mendapatkan informasi yang cukup, ketersediaan alat kontrasepsi yang cukup, peran petugas yang baik, dan mendapatkan dukungan dari keluarga semua ini mengalami penurunan tingkat kelahiran. Hal ini menunjukkan bahwa keempat aspek ini sangat berperan dalam mendukung efektivitas program KB. Selain itu, sumber informasi yang tepat juga membantu meningkatkan pemahaman dan penggunaan alat kontrasepsi. Pasangan usia subur disarankan untuk aktif mencari informasi yang tepat tentang KB dan berkonsultasi dengan petugas kesehatan agar dapat memilih alat kontrasepsi yang sesuai. Komunikasi yang baik antara suami istri dan dukungan keluarga sangat penting untuk keberhasilan program KB. Dengan demikian, pasangan dapat menjalankan KB secara konsisten demi tercapainya keluarga yang sehat dan sejahtera.} }