@thesis{thesis, author={KEZIA KEZIA}, title ={PENGARUH PENGGUNAAN HIDROFOBIK SEBAGAI PRIMARY DRESSING TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA KAKI DIABETIS GRADE II PADA TN.S DI KLINIK ETN CENTER}, year={2026}, url={http://repository.umi.ac.id/7895/}, abstract={Luka kaki diabetes merupakan komplikasi serius pada pasien diabetes melitus yang sering mengalami penyembuhan terhambat akibat gangguan vaskular, neuropati, dan risiko infeksi tinggi. Penggunaan dressing modern seperti hidrofobik menawarkan pendekatan inovatif melalui mekanisme fisik untuk mengikat mikroba tanpa memicu resistensi antimikroba, sehingga berpotensi mempercepat penyembuhan luka. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh penggunaan hidrofobik sebagai primary dressing terhadap penyembuhan luka kaki diabetes grade 2 melalui penerapan asuhan keperawatan secara komprehensif. Metode: Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan menerapkan proses asuhan keperawatan secara lengkap yang meliputi pengkajian kondisi luka, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan intervensi, implementasi tindakan, dan evaluasi hasil perawatan. Observasi luka dilakukan secara serial pada tiga titik waktu (21 Juli, 15 Agustus, dan 20 Agustus 2025) dengan menggunakan instrumen Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BJWAT). Prosedur perawatan mencakup pembersihan luka dengan sabun antiseptik, aplikasi PHMB untuk menurunkan beban mikroba, pemasangan dressing hidrofobik sebagai balutan primer, serta penggunaan dressing sekunder untuk mempertahankan kelembapan luka yang optimal. Evaluasi mencakup pengukuran ukuran luka, persentase jaringan granulasi, slough, epitelisasi, karakteristik eksudat, serta respons nyeri pasien. Pendekatan edukasi diberikan untuk mendukung kepatuhan pasien dalam perawatan kaki dan pengendalian gula darah. Hasil: Penyembuhan luka menunjukkan perbaikan signifikan selama perawatan dengan hidrofobik: Pada 21 Juli 2025, jaringan luka terdiri dari 40% slough, 60% granulasi, dan epitelisasi <25%, dengan luas luka 2,5 cm². Pada 15 Agustus 2025, granulasi meningkat menjadi 90%, slough menurun menjadi sekitar 10%, dan epitelisasi meningkat menjadi 25–<50%, dengan ukuran luka menjadi 1 cm². Pada 20 Agustus 2025, granulasi mencapai 100%, slough 0%, epitelisasi 25- <50%, dan ukuran luka menyusut menjadi 0,08 cm². Nyeri akut yang awalnya dilaporkan skala 2 teratasi dalam satu sesi intervensi. Kesimpulan: Penggunaan hidrofobik sebagai primary dressing dalam asuhan keperawatan terbukti efektif mempercepat penyembuhan luka kaki diabetes grade 2 dengan memperbaiki kondisi luka secara objektif dan mengurangi keluhan subjektif pasien. Diabetic foot ulcers are a serious complication of diabetes mellitus, often characterized by delayed healing due to vascular impairment, neuropathy, and a high risk of infection. The use of modern dressings such as hydrophobic dressings provides an innovative approach through a physical mechanism that binds microorganisms without inducing antimicrobial resistance, thereby potentially accelerating wound healing. Objective: This study aims to identify the effect of hydrophobic dressing as a primary dressing on the healing of grade 2 diabetic foot ulcers through the comprehensive application of nursing care. Methods: The study used a case study design by implementing a complete nursing care process that includes wound assessment, nursing diagnosis determination, intervention planning, action implementation, and evaluation of treatment outcomes. Wound observations were conducted serially at three time points (July 21, August 15, and August 20, 2025) using the Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BJWAT). Treatment procedures included wound cleansing with antiseptic soap, application of PHMB to reduce the microbial load, application of a hydrophobic dressing as a primary dressing, and use of a secondary dressing to maintain optimal wound moisture. Evaluation included measurement of wound size, percentage of granulation tissue, slough, epithelialization, exudate characteristics, and patient pain response. An educational approach was provided to support patient compliance with foot care and blood sugar control. Results: Wound healing showed significant improvement during treatment with hydrophobic: On July 21, 2025, the wound tissue consisted of 40% slough, 60% granulation, and <25% epithelialization, with a wound area of 2.5 cm². On August 15, 2025, granulation increased to 90%, slough decreased to approximately 10%, and epithelialization increased to 25–<50%, with a wound size of 1 cm². On August 20, 2025, granulation reached 100%, slough 0%, epithelialization 25– <50%, and the wound size decreased to 0.08 cm². Acute pain initially reported as a scale 2 resolved within one intervention session. Conclusion: The use of hydrophobic primary dressing in nursing care proved effective in accelerating the healing of grade 2 diabetic foot ulcers by improving objective wound conditions and reducing the patient’s subjective complaints.} }