A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: controllers/Document.php

Line Number: 69

Backtrace:

File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler

File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: controllers/Document.php

Line Number: 69

Backtrace:

File: /home/rama/public_html/application/controllers/Document.php
Line: 69
Function: _error_handler

File: /home/rama/public_html/index.php
Line: 296
Function: require_once

@thesis{thesis, author={ANDI and Prof. Dr. Deddy }, title ={STUDI FORMULASI KEBIJAKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA MAKASSAR 2010-2030 MELALUI PENDEKATAN KOALISI ADVOKASI}, year={2013}, url={http://repository.unhas.ac.id/id/eprint/10464/}, abstract={ABSTRAK ANDI LUHUR PRIANTO. Studi Formulasi Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Makassar 2010-2030 Melalui Pendekatan Koalisi Adovokasi. Di bimbing oleh Deddy. T. Tikson dan Muhammad Rusdi. Situasi proses formulasi kebijakan RTRW Kota Makassar 2010-2030 yang alot dan telah membentuk pola konfigurasi koalisi antar aktor dan menjadi menarik jika ditinjau dari perspektif koalisi advokasi. Penelitian bertujuan untuk menganalisis bentuk dinamika interaksi para pemangku kepentingan, menganalisis konfigurasi koalisi advokasi aktor, dan menjelaskan pola pembelajaran kebijakan dalam proses formulasi kebijakan RTRW Kota Makassar 2010-2030. Metode penelitian yang digunakan melalui pendekatan kualitatif yang bersifat studi kasus. Dalam penelitian kulaitatif prosedur yang terpenting adalah menentukan informan kunci yang sarat informasi sesuai dengan fokus penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis dengan model interaktif. Hasil penelitian menujukkan bahwa proses formulasi dengan tahap perumusan masalah hingga ke penetuan alternatif menjadi ranah dominan kelompok eksekutif kota, sementara di tahap penetapan dan pengesahan Ranperda RTRW menjadi ranah dominan pihak legislatif. Jajaran kelompok kepentingan pun menjadi pihak yang senantiasa memantau, mendorong dan mengkritik proses-proses pembahasan kebijakan yang masih bersifat teknokratis. Kehadiran kelompok-kelompok membentuk konfigurasi koalisi yang memiliki ide yang sama beraliansi (pro) untuk melawan kelompok yang menentang idenya (kontra), dan sebagian lagi berposisi menjadi kelompok penengah. Pembelajaran kebijakan yang terjadi memungkinkan proses pengayaan terkait dengan dinamika, kontestasi dan konflik para pihak dalam proses formulasi kebijakan penataan ruang kota.} }