@thesis{thesis, author={ARIYANTO RESTU DWI and DHIAN P. IKKE YULIANI and Putri Nabella Karunia}, title ={STUDI KECANDUAN GAME ONLINE DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA DI SMAN 4 KOTA KEDIRI}, year={2021}, url={http://repository.unpkediri.ac.id/3056/}, abstract={Abstrak Nabella Karunia Putri: Studi Kecanduan Game Online Dan Komunikasi Interpersonal Siswa Di SMAN 4 Kota Kediri, Skripsi, BK, FKIP UN PGRI Kediri, 2021. Kata kunci : kecanduan game online, komunikasi interpersonal. Penilitian ini dilatarbelakangi bahwa game online dapat menyebabkan kecanduan dan mempengaruhi komunikasi interpersonal siswa. Faktor lain yaitu perkembangan teknologi dan jaringan internet yang mendukung suburnya perkembangan game online. Hal ini juga terjadi pada siswa SMAN 4 Kota Kediri yang ditunjukkan fenomena kecanduan terhadap game online dengan menurunnya nilai akademik siswa dan fenomena komunikasi interpersonal meliputi efisiensi waktu dan tidak dapat berkomunikasi dengan orang yang berada di tempat yang berbeda. Permasalahan penelitian ini adalah (1) Bagaimana ciri-ciri siswa kecanduan game online di SMAN 4 Kota Kediri? (2) Bagaimana komunikasi interpersonal siswa kecanduan game online di SMAN 4 Kota Kediri? Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus tipe tunggal (single case). Subjek primer meliputi AS, EY, DS, FE dan subjek sekunder meliputi keluarga dan Guru BK. Instrumen yang digunakan berupa wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian yaitu dari siswa yang diteliti ternyata hampir semua siswa kecanduan game online dengan rata-rata bermain 8 ? 10 jam / hari selama ± 4 ? 6 tahun lamanya. Ciri-ciri yang tampak pada siswa yang kecanduan game online antara lain Salience, Euphoria, Conflik, Tolerance maupun Withdrawal. Interaksi komunikasi interpersonal siswa kecanduan game online di dalam dunia virtual cukup aktif dikarenakan intensitas bertemunya gamers yang memiliki minat sama. Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, saran yang direkomendasikan bagi orang tua dan keluarga diharapkan dapat menjadi pengingat agar bisa mengontrol kegiatan siswa. Bagi peneliti selanjutnya lebih menguasai lapangan, memperhatikan aspek sosial budaya, dan kebijakan sekolah.} }