@thesis{thesis, author={Sari Putri Eva Elvianita Nanda}, title ={IMPLEMENTASI MODERASI BERAGAMA MELALUI LITERASI DIGITAL DI MTS ISLAMIYAH TEMAYANG BOJONEGORO}, year={2023}, url={https://repository.unugiri.ac.id/id/eprint/2741/}, abstract={Implementasi moderasi beragama merupakan strategi penting dalam meminimalisir adanya tindakan atau pemikiran radikalisme, intoleransi dan kekerasan yang mengatasnamakan agama, terutama di era digitalisasi seperti sekarang ini. Penelitian ini bertujuan untuk memgetahui: (1) Bagaimana implementasi moderasi beragama melalui literasi digital di MTs Islamiyah Temayang Bojonegoro; dan (2) Apa saja faktor pendukung dan penghambat implementasi moderasi beragama melalui literasi digital di MTs Islamiyah Temayang Bojonegoro. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: moderasi beragama yang diimplementasikan melalui literasi digital di MTs Islamiyah Temayang Bojonegoro telah terealisasikan dengan baik pada para siswa dan seluruh warga madrasah. Intergrasi moderasi beragama melalui literasi digital, diwujudkan dalam kegiatan madrasah yang menunjang adanya implementasi moderasi beragama, meliputi kegiatan-kegiatan keagamaan kajian moderasi beragama dan ekstrakurikuler jurnalistik multimedia. Upaya implementasi indikator moderasi beragama melalui literasi digital, seperti kegiatan pembiasaan upacara dan sholat dhuha, workshop literasi digital, lomba pidato moderasi beragama, penulisan essai atau artikel, pembuatan poster moderasi beragama. Faktor pendukung lainnya adalah faktor internal (bakat skill digital yang dimiliki siswa, minat siswa untuk berkontribusi dalam kemajuan teknologi melalui karya digital) dan faktor eksternal (fasilitas dan akses internet yang memadahi). Sedangkan faktor penghambat internal dalam implementasi moderasi beragama melalui literasi digital di MTs Islamiyah Temayang Bojonegoro adalah minat siswa terhadap literasi digital yang berbeda, faktor eksternalnya yaitu keterbatasan fasilitas dan akses internet, serta lingkungan yang homogen muslim sehingga pengalaman toleransi terhadap non-muslim belum dimiliki siswa.} }