@thesis{thesis, author={ILAWATI ILAWATI and Sofiyanti Ida}, title ={GAMBARAN PRAKTIK BUDAYA PADA MASA NIFAS DI SUKU DAYAK MERATUS}, year={2022}, url={http://repository2.unw.ac.id/2400/}, abstract={Latar Belakang: Pada beberapa budaya, pantang makan pada ibu nifas dapat berpengaruh terhadap asupan gizi. Pantang Makanan adalah bahan makanan atau masakan yang tidak boleh dimakan oleh para individu dalam masyarakat karena alasan yang bersifat budaya. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran praktik budaya pada masa nifas di suku Dayak Meratus. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam (in-depth interview), Wawancara mendalam dengan informan ibu nifas, tokoh adat, dukun beranak , dan bidan desa. Penelitian dilakukan di Desa Harakit Kecamatan Piani Kabupaten Tapin Kota Rantau Kalimantan Selatan Hasil: penelitian menemukan masih adanya pantang makanan seperti tidak diperbolehkan mengkonsumsi makanan yang bersifat anyir contohnya daging ayam dan telur, manis, pedas asam serta makanan yang dapat menimbulkan gatal. Pantang perbuatan salah satunya dalam masa nifas ibu di pantang untuk tidak terpapar sinar matahari dikarenakan dapat menyebabkan penglihatan kabur bahkan pendarahan. Cara perawatan masa nifas pada suku Dayak Meratus menggunakan kunyit sebagai proses penyembuhan luka mereka meyakini bahwa kunyit tersebut dapat mengeringkan luka jahitan pada ibu nifas. Perawatan ASI pada suku Dayak Meratus memanfaatkan hasil alam yaitu getah buah Lua yang dioleskan ke payudara ibu. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas khususnya di suku Dayak Meratus. Simpulan: Pantangan makan pada masa nifas dapat menurunkan asupan gizi ibu yang akan berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan produksi air susu. Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbang, terutama kebutuhan protein dan karbohidrat Kata Kunci: Praktik budaya pada ibu nifas} }