@thesis{thesis, author={Dwi Rahayu Hestin and Widyaningsih Ari}, title ={GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN SECTIO CESAREA DI RSUD SUNGAI LILIN KABUPATEN MUSI BANYUASIN TAHUN 2021}, year={2022}, url={http://repository2.unw.ac.id/2417/}, abstract={Menurut WHO (World Health Organization ) standar rata-rata operasi sectio cesarea (SC) sekitar 5 - 15%. Data WHO Global Survey on Maternal and Perinatal Health menunjukkan 46,1% dari seluruh kelahiran melalui persalinan SC. Jumlah kematian ibu maternal di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2018 sebanyak 120 orang meningkat dari tahun 2017. Bahkan di RSUD Sungai Lilin terdapat kasus terbanyak yang menjadi ancaman yaitu pada persalinan sectio Cesarea (SC) yaitu pada tahun 2018 sebanyak 83 (18,9%) orang, tahun 2019 sebanyak 93 (21,2%) orang ,tahun 2020 sebanyak 97 (22,1%) orang dan tahun 2021 (Januari-November) sebanyak 166 (37,8%) orang, yang mengalami peningkatan dari tahun 2018-2021. Tujuan : Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan sectio cesarea di RSUD Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2021. Metode : Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di RSUD Sungai Lilin tahun 2021 (Januari-November) dengan sampel yang diambil secara total sampling berjumlah sebanyak 166 responden. Analisis data menggunakan uji chi- square. Hasil : Distribusi frekuensi pada pendidikan rendah sebanyak (62.0%) dari pada ibu yang pendidikan tinggi sebanyak (38.0%) , pada umur ibu lebih banyak terjadi pada usia ibu tidak beresiko (>20-<35 tahun) sebanyak (74.7%) dari pada ibu dengan usia berisiko (<20->35 tahun) sebanyak (25.3%) dan pada paritas ibu yang banyak melahirkan dengan sectio cesarea paritas ibu multipara sebanyak (60.8%), paritas ibu primipara sebanyak (30.7%) dan paritas ibu grandemultipara sebanyak (8.4%). kesimpulan hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian tindakan sectio cesarea berdasarkan pendidikan lebih banyak pada pendidikan rendah sebanyak (62.0%), pada umur lebih banyak terjadi pada usia ibu tidak beresiko (>20-<35 tahun) sebanyak (74.7%) dan pada paritas ibu multipara sebanyak (60.8%). Saran : Diharapkan agar dapat bisa menjadi masukan dan mengupayakan terhadap pola pikir pasien tentang tidak membedakan antara pendidikan dengan indikasi medis.} }