@thesis{thesis, author={Firdaus Nanda}, title ={STUDI ETNOBOTANI SEBAGAI OBAT TRADISIONAL UNTUK ANTIPIRETIK DI DESA KALISIDI KECAMATAN UNGARAN BARAT KABUPATEN SEMARANG}, year={2024}, url={http://repository2.unw.ac.id/3875/}, abstract={Etnobotani merupakan pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat sekitar yang dalam penerapannya dapat meningkatkan daya hidup manusia. Tujuan dilakukanya penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan obat antipiretik yang dimanfaatkan oleh masyarakat desa Kalisidi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik wawancara semi terstruktur (Semi-Structured Interview) dengan sampel sebanyak 100 responden. Hasil : Dari hasil penelitian diperoleh sebanyak 20 jenis tumbuhan obat untuk antipiretik yaitu dadap serep (20%), brotowali (17%), kelor (16%), sirsak (15%), kencur (4%), jahe merah (3%), jahe gajah (3%), kelapa (3%), cocor bebek (3%), bawang merah (2%), jahe emprit (2%), sambiloto(2%), meniran (2%), sirih (2%), bunga sepatu (1%), jarak pagar (1%), bidara (1%), bangle (1%), cabai rawit (1%) dan pepaya (1%). Bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun sebanyak (65%). Sumber perolehan tumbuhan diperoleh dari budidaya sendiri sebanyak (61%), tumbuhan liar (33%) dan membeli di pasar (6%). Cara pengolahan tumbuhan obat dengan cara direbus sebanyak (73%), ditumbuk (21%) dan dibakar sebanyak (6%). Simpulan : Jenis tumbuhan obat untuk antipiretik yang paling banyak digunakan adalah dadap serep (20%). Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun sebanyak (67%). Sumber perolehan tumbuhan paling banyak diperoleh dari hasil budidaya sendiri sebanyak (61%). Pengolahan tumbuhan obat umumnya dilakukan dengan cara rebus sebanyak (73%).} }