Abstract :
Gangguan pada sistem pernapasan terjadi ketika proses pengambilan oksigen di saluran nafas terhambat, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti bakteri, virus, mikroba, dan zat lainnya. Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Ruang ICU dikenal sebagai ruangan yang lebih banyak menggunakan antibiotik daripada ruang perawatan lainnya. Tingkat penggunaan antibiotik yang tinggi ini dapat mengakibatkan berbagai masalah khususnya resistensi antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada pasien dengan gangguan pernafasan di ruang perawatam intensif (ICU). Penelitian ini menggunakan desain mixed method dengan metode Gyssens serta ATC/DDD secara retrospektif dan pengambilan data secara consecutive sampling. Hasil penelitian menggunakan metode Gyssens, 33,8% dinyatakan menggunakan antibiotik secara rasional (kategori 0). Adapun 66,3% belum rasional terdiri dari kategori IIIB 23,8%, kategori IVA 32,5%, dan kategori IVC 10,0%. Berdasarkan metode ATC/DDD, antibiotik yang paling banyak digunakan adalah levofloksasin, dengan penggunaan sebesar 55,16 DDD/100 patient days, dan seftriakson sebesar 46,40 DDD/100 patient days. Penggunaan antibiotik ini belum sepenuhnya rasional dikarenakan belum menggunakan hasil kultur sensitivitas.
Kata kunci : Gangguan Pernafasan, Antibiotik, Intensive Care Unit (ICU)