Abstract :
Penulis mengangkat tulisan dengan kajian Etnofenomenologi tentang nilai
dan makna tarianpa?randing di Lembang Sillanan. Dimana tarian pa?randing di
Lembang Sillanan diyakini dapat mendatangkan musibah yakni kematian bagi
penari dan keluarga yang melaksanakan upacara Aluk Rambu Solo ?. Hal ini masih
diyakini sampai saat ini bahkan bagi masyarakat yang sudah menganut agama
Kristen.
Berdasarkan hal tersebut, penulis memfokuskan sudut pandang teologis dan
implikasi dampak fenomena tarian pa?randing bagi religiositas warga gereja
Toraja Jemaat Sillanan. Penelitian ini akan dikaji berdasarkan teori budaya,
pengaruh kebudayaan bagi masyarakat, sudut pandang Alkitab tentang
kebudayaan, Hubungan Injil dan kebudayaan, Gambaran umum seni budaya
Toraja dan pandangan Gereja Toraja tentang seni budaya. Untuk memperoleh data
yang asli, maka penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan
pendekatan etno-fenomenologi berdasarkan model analisis Hegel yaitu analisis
dari rasio yang dikembangkan pada tingkat intuisi intelektual. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tarian pa?randing di Lembang Sillanan ditabukan atau
dipemali karena tarianpa?randing bukan merupakan budaya sillanan dan sangat
pantang jika melakukan budaya yang bukan merupakan adat Sillanan (dirante
pemali), selain itu di Sillanan tidak ada Puang atau bangsawan serta di Sillanan
tidak ada perang.
Kata Kunci: Etnofenomenologi, Nilai Dan Makna, Tarian Pa?randing