Abstract :
ABSTRAK
Simbol dalam masyarakat Toraja merupakan sebuah bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan nonverbal kepada pembaca. Simbol-simbol ini membantu pembaca untuk dapat jauh lebih memahami sebuah makna pada sebuah ritus/ kegiatan masyarakat.
Ma?pakendek kayu rangke dalam kehidupan masyarakat Basse Sangtempe? adalah warisan leluhur yang dilestarikan sampai saat ini. Dengan adanya pemaknaan bahwa kayu rangke adalah lindona tomate menjadikan ritus ini sebagai bagian yang penting dalam upacara pemakaman sebab merupakan bagian terakhir ritual rambu solo?. Latar belakang penulis mengangkat topik ini yang dikaji secara kontekstual melalui model sintesis yaitu untuk menemukan nilai yang terkandung didalam ritus ini.
Diharapkan dengan adanya sebuah pemaknaan tentang ma?pakendek kayu rangke semakin mengokohkan hubungan relasi bahwa yang hidup ingin memelihara relasi dengan yang telah mati dan yang telah mati tetap menjadi bagian anggota keluarga dari rumah dimana tanduk tedong itu ditempatkan.
Kata Kunci: Simbol, Ritus, Relasi, Kayu Rangke
ABSTRACT
Symbols in Toraja society are a language used to convey nonverbal messages to readers. These symbols help readers to better understand the meaning of a rite/community activity.
Ma'pakendek rangke wood in the life of the Basse Sangtempe' community is an ancestral heritage that has been preserved to this day. The meaning that rangke wood is lindona tomate makes this rite an important part of the funeral ceremony because it is the final part of the Rambu Solo' ritual. The author's background in raising this topic is studied contextually through a synthesis model, namely to find the values contained in this rite. It is hoped that the meaning of Ma'pakendek Kayu Rangke will further strengthen the relationship that the living want to maintain relationships with the dead and that the dead will remain part of the family of the house where the tedong horn is placed.
Keywords: Symbols, Rituals, Relationships, Kayu Rangke