Abstract :
Skripsi ini yang diberi judul ?Fundamentalisme Versus Pluralisme44, dengan
sub judul ?Suatu Tinjauan Teologis - Sosiologis Tentang Fundamentalisme Kristen Dalam Perjumpaannya Dengan Agama-agama Yang Lain Di Indonesia46 merupakan suatu tulisan yang berangkat dari fenomena akan keberadaan agama Kristen dalam konteks pluralisme agama di Indonesia. Keberadaan agama Kristen (gereja) dalam konteks pluralisme agama, sedikit banyaknya dipengaruhi oleh paham eksklusif yang berkembang dalam gereja itu sendiri. Adanya paham ekskusif seperti fundamentalisme
membuat gereja/umat Kristen tertutup terhadap penganut agama lain. Ketertutupan ini didasarkan pada ayat-ayat dalam Alkitab yang bersifat eksklusif (bnd. Yoh.l4:6) yang dengan sendirinya membuat kaum fundamentalis mengkaim bahwa agama kristenlah yang benar, di luar agama Kristen tidak ada kebenaran.
Lewat tulisan ini, gereja (umat Kristen) khususnya penganut
fundamentalisme diajak untuk menyadari dan memahami bahwa hidup dalam konteks pluralisme agama diperlukan sikap terbuka untuk saling memberi dan menerima atau dengan kata lain keberadaan orang Kristen adalah untuk ?orang lain1? (pro-eksistcnsi).
Uraian dalam skripsi ini memberikan penekanan bahwa paradigma berpikir pluralisme memberi jaminan bahwa keidentitasan masing-masing agama tidak akan hilang (merelatifkan iman Kristen) sebagaimana dikhawatirkan oleh kaum fundamentalis. Dengan adanya keterbukaan dengan agama lain, maka umat Kristen akan menampakkan keidentitasannya yakni kasih. Keterbukaan yang dilandasi oleh kasih, kemanusiaan dan Pancasila sebagai dasar bangsa Indonesia, maka gereja (umat Kristen) akan dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan umat beragama lain.
Akhirnya, Penulis menyimpulkan bahwa bila gereja (umat Kristen) ingin
eksis, maka gereja harus berani keluar dari keterisolasiannya dengan cara
mengembangkan dialog antar umat beragama yang didasarkan atas kasih, dan rasa kemanusiaan. Dengan demikian maka fundamentalisme dalam gereja dapat dihambat pertumbuhannya, disamping gereja juga tidak terkondisikan untuk menjadi reaktif.