Abstract :
Ma'pasilaga tedong adalah salah satu budaya Toraja yang unik dan
hanya dilaksanakan pada upacara kematian. Seiring dengan
perkembangan zaman, kerbau yang diadu tidak lagi berakhir pada
tangan para jagal, namun khusus untuk diadu dan dirawat secara
telaten oleh anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Mereka
berkonsentrasi mengurus kerbau petarung, sehingga tugas dan
tanggungjawab pokok sering terbengkalai. Mirisnya mereka hanya
merawat kerbau milik para bangsawan atau kaum bermodal dengan
upah yang tidak seberapa. Tulisan ini menggunakan penelitan
kualitatif dengan pendekatan narasi, penulis mengumpulkan data
lapangan lewat observasi dan wawancara, selanjutnya dianalisis
dengan menggunakan konsep teologi sosial liberartif menurut
Yewangoe. Dari hasil analisis tersebut, para subjek termotivasi
memelihara kerbau petarung dan ikut serta pada kegiatan ma'pasilaga
tedong karena secara ekonomi memperoleh upah, secara sosial
terwujudnya relasi dengan semua pihak, dan secara psikologis
memperoleh kesenangan. Paradigma bahwa Tuhan membebaskan
mereka dari persoalan ekonomi dan sosial juga menjadi alasan untuk
terus berada dalam lingkaran adu kerbau. Menyikapi kondisi
demikian, Yewangoe dengan konsep teologi sosial liberatifnya
menyerukan agar setiap umat (para pangkambi') dapat mengalami
pembebasan yang sejati dan pemberdayaan, yang diharapkan
terwujud melalui gereja-Nya.
Ma'pasilaga tedong is one of the unique Toraja cultures and is only carried out at death ceremonies. Along with the tirnes, the buffaloes that are fought no longer end up in the hands of the butchers, but specifically to be pitted and cared for painstakingly by children, teenagers and adults. They concentrate on taking care of the fighting buffalo, so that the main duties and responaibilities are often neglected.
It's a sharne that they only care for buffalo belonging to the nobility or the wealthy with meager wages. This paper uses qualitative research with a narrative approach, the author collects field data through observation and interviews, then it is analyzed using the concept of liberative social theology according to Yewangoe. From the results of this analysis, the subjects were motivated to raise fighting buffalo and participate in tedong ma'pasilaga activities because economically they received wages, socially created relationships with all parties, and psychologically they got
pleasure. The paradigm that God freed them from economic and social problems is also a reason to continue to be in the bullfighting cycle. Responding to this condition, Yewangoe with his liberative social theology concept calls for every niember of the community (the pangambi') to experience genuine recovery and empowerment, which is hoped to niaterialize through His church.