DETAIL DOCUMENT
Krisis Ekologi: Memahami Hermeneutik Pascakolonial Kejadian 1:26-31 dan Implikasinya bagi Jemaat Gerbang Mezbah Salulossa di Tabulahan.
Total View This Week0
Institusion
INSTITUT AGAMA KRISTEN NEGERI TORAJA
Author
Wanti, Hibur
Subject
BS The Bible 
Datestamp
2024-07-30 11:32:18 
Abstract :
Hibur Wanti (2020186030), Tahun 2022 menyusun skripsi dengan judul KRISIS EKOLOGI, Memahami Hermeneutik Pascakolonial Kejadian 1:25 : 26-31 dan Implikasinya Bagi Jemaat Gerbang Mezbah Salulossa di Tabulahan. Penulis dibimbing oleh bapak Amos Susanto, M.Th. dan ibu Ones Kristiani Rapa' M.Si. Pada tahun 2021, krisis ekologi terjadi di Tabulahan yang mengakibatkan banjir bandang. Kerusakan lingkungan ini terjadi karena kurangnya kesadaran jemaat untuk menjaga alam seperti perintah Allah dalam Kejadian 1:26-31. Tidak sedikit jemaat yang memahami bahwa mandat Allah dalam kisah penciptaan adalah perintah untuk mengeksploitasi alam. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti hermeneutik pascakolonial Kejadian 1:26-31 dan implikasinya bagi Jemaat Gerbang Mezbah Salulossa yang dilanda Krisis ekologi. Metode penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik analisis data lapangan dan penafsiran. Hasil dari penelitian ini adalah Allah memberikan perintah kepada manusia sebagai gambar dan rupa- Nya untuk mengelola dan memelihara alam secara harmonis. Alam memiliki nilainya sendiri sebagai subjek dalam mendatangkan kesejahteraan atas ciptaan yang lain. Dengan kesadaran yang tinggi akan pentingnya memelihara alam, maka Jemaat Gerbang Mezbah mampu menjaga lingkungan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Kata Kunci: Manusia, Ekologi, Berkuasa, Alam, Lingkungan, Kejadian 1:26-31. 
Institution Info

INSTITUT AGAMA KRISTEN NEGERI TORAJA